twitter instagram linkedin
  • HOME


gue baca salah satu thread di Kaskus. Judulnya: Sepasang Kaos Kaki Hitam. Awalnya gue kira semacam apa gitu ya, sekedar prosa atau cerpen. Pas gue buka disini, ternyata itu cerita nya cukup panjang, sampai 115 part. Karena males ngebukain satu-satu di tab baru, gue pun nyari e-booknya. Setelah googling, dapet juga link downloadnya disini.

Akhirnya gue mulai baca, dan larut dalam ceritanya. It based on true story, penulisnya Ariandi Ginting. Semakin gue nyelamin, semakin gue ngerasain banyak banget pesan dan arti kehidupan yang selama ini sering alamin sehari-hari, tapi kadang nggak kita sadarin. Tentang beratnya beban hidup masing-masing orang, tentang gimana rasa sakitnya ditinggalkan sama orang yang kita sayangin, tentang perjuangan ngeraih cita-cita,............. dan tentang arti dari sebuah cinta.

Gue pengen banget spoiler sebenernya, hehehe. Tapi lebih baik dibaca sendiri. And maybe I am too sentimental, but that story is truly heartbreaking. Ada beberapa part yang gue suka banget. Here it goes.....

"gini deh Meva sayaang......" gw ambil pion yg sejak tadi dipandanginya. "pion ini, memang nggak ada artinya saat ini." gw letakkan di salah satu petak. "tapi kalo pion ini bisa ngelewati semua ujian untuk bisa sampai di petak terakhir..." gw letakkan dia di petak paling sudut di daerah pertahanan gw. "pion nggak berharga ini bisa bermetamorfosa jadi benteng, kuda atau bahkan jadi menteri." dan gw mengganti pion itu dengan menteri. meva masih diam. "sama kayak hidup kita," lanjut gw lagi. "kalo kita bisa bertahan dan ngelewatin semua ujian dalam hidup, suatu saat nanti kita bisa jadi yg lebih hebat dari mereka yg selalu merendahkan kita. kita bisa jadi sesuatu yg berarti buat mereka juga, Va. lo harus tau itu...."

"Menurut gw," kata Meva lagi sementara gw tetap jadi pendengar yg baik. "Cita-cita adalah impian yg bertanggal. Gw tinggal nyusun urutan langkah buat mencapai tanggal itu. Jadi, semakin gw menunda, semakin tanggal itu terdorong menjauh. Dan semakin gw malas, semakin cita-cita itu jadi nggak berarti. Gw nggak mau itu terjadi sama gw. Gw akan buktikan gw bisa ngejer deadline cita-cita yg udah gw tentuin sendiri."

Dan yang paling nge-nyesssh adalah epilognya:

Mungkin sekarang kita tidak sedang mencoba menyesali dan berandai-andai menciptakan dunia kita sendiri. Karena dunia yg Tuhan ciptakan buat kita sudah mencukupi segalanya. Apa yg sudah Ia gariskan, yakini itu indah. Dia tidak kusut dan lusuh, dia hanya sedang dalam proses menuju sebuah gambar yg cantik. Kenangan adalah cara Tuhan menyampaikan kepada kita bahwa ada senja yg tidak habis ditelan malam. Jika kita mau menyimpannya jauh sampai ke akar terdalam hati, dia akan tetap ada di sana. Itulah dia, yg tidak akan habis dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun. Jika kita mau menyimpannya...

"aku tau kamu sayang aku, kamu pun tau aku sayang kamu. Kita nggak pernah berhenti buat saling menyayangi. selamanya. Kita cuma berhenti nunjukkin sayang itu dalam bentuk nyata. Kita ganti dengan bait-bait doa, dan mungkin dalam sujud panjangmu, ada nama aku terselip di dalamnya. terimakasih buat tahun-tahun tak terlupakan kita. Terimakasih buat filosofi pion catur."

Rasanya baca cerita yang kayak gitu tuh bikin hati berkecamuk nggak sih?

That's how I feel. Gue sampai ngerasa seseeeeeekkk banget.

(tears still run down my face....)

Nggak tau mesti gimana sekarang, selain terus percaya bahwa everything that needs to happen, will happen, in the time that it takes to happen, the way it was meant to happen. But for now, I really need to put my mind on where it should've been and disregard the rest of the unnecessaries.
*sigh*
Recent song on play: Demi Lovato ft. Joe Jonas - What We Came Here For

"They say that life is a two-way street, when you're not sure you gotta trust your feet to know the right way. You can keep on movin with your head down, or you can stop and take a look around.
And that's the choice I've made."

Tiga tahun yang lalu, 61 anak yang berasal dari berbagai daerah, dengan berbagai sifat dan kepribadiannya, melangkahkan kaki di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. Sebuah departemen baru, yang baru memiliki dua angkatan sebelumnya.
Asing. Begitulah kesan pertama gue, pun pasti kalian ngerasain hal yang sama. Saat itu I keep asked to myself, is this the right place I have to be? Akan jadi seperti apa gue disini? Bisa nggak yah gue survive? And so on. Tapi sejak melihat kalian pertama kali, dengan begitu banyaknya warna yang kalian pancarin, senyum ramah dan tawa yang renyah yang setiap hari gue temuin, gue tau, bahwa gue nggak tersesat. Seenggaknya, bareng kalian, I knew I could go through this all.

"It's for that movie inside your head, making memories we can't forget. For every song we let play outside, the melodies we get to write, every time we sing. Friends we've made, fun we've had, memories gonna make me laugh. It's a beautiful thing."

Dan seiring waktu berjalan, kalian completely, literally, change my whole life. Begitu banyak waktu yang kita habisin bareng-bareng, entah itu dikelas, diluar kelas, dimana-mana, dengan kelakuan kalian yang sangat absurd yang udah sering gue ceritain disini, hahaha. Dan sadar atau enggak, itu yang bikin sampai kapanpun nggak akan bisa dilupain. Banyak momen yang kita laluin, banyak tempat yang kita datengin. Kita nggak cuma sekedar temen sekelas, temen belajar, temen seperjuangan buat mencapai gelar sarjana. Tapi dengan kalian, gue juga dapet banyak banget pelajaran kehidupan. Tiga tahun kita tumbuh dan berkembang bareng-bareng, banyak proses, perubahan yang gue lihat dan rasakan dari kalian. Tapi ada satu hal yang nggak pernah berubah: kalian selalu nggak pernah gagal bikin gue ketawa. :)))
"I want to send it around the world, cause everybody should feel this good."

Gue bangga, bahagia, dan bersyukur bisa jadi salah satu dari kalian. Kalian semua energi positif yang besar banget, yang bikin gue bisa tetep senyum dan ketawa saat gue lagi ngerasa jenuh banget sama kuliah, yang bikin gue bisa tetep semangat saat gue lagi ngerasa down dan pengen nyerah. Nggak perlu dengan nasehat deh, celotehan nggak penting kalian aja udah nolong banget. Hahahaha. Sesusah apapun, seberat apapun proses jadi anak teknik, seenggaknya gue tau, ada 60 anak-anak stress lainnya yang berjuang bareng-bareng gue. Jadi kalo stress, ya stress nya juga ada temennya. Makanya gue sering nulis apapun tentang kalian, because I would proudly tell everyone, bahwa gue punya keluarga yang terbaik disini.

"You're gonna know in your soul, this is what we came here for. So live it loud, here and now, this moment,
it won't be ignored. So why not open up that door? It's what we came here for."

And, here it comes. Sebuah perjalanan yang hebat, pasti harus sampai pada akhir yang hebat juga. Tiga tahun semua perjuangan, peluh, keringat, asa, dan cita-cita kita bentar lagi akan sampai ke sebuah tujuan. Menjadi sarjana. Dan untuk mencapainya, sekali lagi we're being pulled to another hundreds different direction. Secara nggak langsung, kita udah sampai di pintu perpisahan. Dengan nggak adanya kuliah, penelitian yang beda-beda, kita, sadar atau nggak, mulai menapaki sebuah jalan yang baru lagi. Our crossed path is finished. Mulai sekarang, kita berjuang sendiri-sendiri.

Sedih, sepi, aneh. Itu yang gue rasain, entah gimana dengan kalian. Tapi kalau kita noleh ke belakang, flashback ke saat kita pertama kali nginjekin kaki di SIL,
we know that, this is what we came here for. 
Untuk inilah kita ada disini, untuk inilah kita berjuang selama tiga tahun bersama, untuk sebuah titel sarjana, untuk sebuah masa depan. 

Jadi, yang mau gue sampein ke kalian semua adalah: Selamat. Selamat menunaikan asa, selamat menggapai cita, selamat merajut masa depan kalian, temen-temen. Sering kita denger kalimat, "selamat sampai tujuan ya." And we did it! Kendaraan yang kita tumpangin bareng-bareng udah sampai ke terminal nih, sekarang saatnya kita ngelanjutin perjalanan sendiri-sendiri. Semangat. Semangat untuk terus berjalan, dan bahkan berlari sejauh yang kalian bisa. Kalian orang-orang yang hebat, dan gue yakin kalian akan jadi orang yang jauh lebih hebat setelah ini.
Dimanapun kalian, apapun yang kalian kerjain, gue tau kalian akan selalu bisa survive dan berhasil.
Semangat terus penelitiannya.
 
Buat Libna, Annette, Memel, Didi, Bundo, saudara seeeebimbingan ku, semangat terus buat ngejar deadline kita! Didi jangan lupa pake jas hujan biar nggak demam lagi, hahaha :D
Buat anak-anaknya Opa, semangat nyari orang buat bantuin Arc-GIS ya Tami dan Lia :))
Buat Pepewekibo, Trias, Melvin, dan Agindut yang jauh-jauh ngerantau ke Lampung & Palembang, semoga lancar disana dan bisa cepet pulang. Aamiin!
Buat Ria yang udah super bringas yang tiap hari ngumpulin kaleng, buat Christo dan Eko yang sibuk sama buah bintaro, buat Isti yang capek bolak balik rektorat, kalian super sekaliiii! Hahaha.
Buat Age yang lagi riweuh nyari orang buat bantuin traffic counting, buat Depe yang nyari data dari berbagai kota, buat Agitsu, buat Aci, buat Dipta yang neliti banyak pohon di Kebun Raya, jangan pernah lelah ya :)
Buat Nura yang setiap minggu bimbingan dua kali, buat Bosyooon yang stress sama papinya, sabar dan semangat terus! Haha :D
Buat anak-anaknya Pak Roh yang paling gerak cepet, Juno, Tama, Buneg, dan si anak baru Masbro, tungguin yang lain atuuuh ;p hahaha semangattt!
Buat tim Prof Buds yang paling koplak dan kompak, Ojep, Dodoy, Canekiting, Pupu, Boshen, dan Aa Zajib, udah enak bangetlah kalian pinter-pinter semua, udah gitu penelitian udah kayak praktikum pula hahahaha. Kalau kata Cane, Mei udah beres ya? Wes, ditunggu. Btw, udahan yah nyiksa Ojepnya, kasian :")
Buat Daddy Ibung & Rizal, cemangattt yang seminar pertama! Sama pak Oyo mah langsung tesis ya :") hahahaha
Buat Miro & Erbi, jangan nyusahin dan nyiksa daddy Andik yah :")) hahaha semangat!
Buat Lutuyeah, Hapila, dan Adi, sabar-sabar ya sama Madam, semoga dapet gantungan kunci lagi :D
Buat Upay, Marbundos, dan Lele, nanti bikin slide nya jgn kayak babeh kalian yg cuma item-putih ya :D hahahaha semangaattt, jangan suka miskom :p
Buat Adam dan Mbokce yang tiap hari nongkrong di ruangan-enak-belakang-lab-struktur, yang bener bikin jembatannya! :D
Buat Mayate yang kalau hujan riweuh ngangkatin botol, buat Dilla dan Nadi, ayo hap hap semangattt, terutama semangat ngadepin Maya hahahaha :p
Buat Asepo, Z, dan Bu Haji Risqoh, I haven't hear any news from you, hope you're doing okay yah. Waduh ini ntar tau-tau udah wisuda kali ya XD
Buat Jaja, Macuna, Choliq, jangan pake Autocad, inget kata Babeh kalian, Autocad itu jaman batu! Hahaha :p
Buat Faiz dan Dian, kompak terus ya :p *awas ntar ada yang ngambek hahahaha*
Buat Rara, Ikhsan Dede, Zucup, selamat bersenang-senang sama JengMies :p

Setiap proses pasti punya cerita. Entah itu susah, sedih, seneng... Jalani, dan hadapi. Cuma itu pilihan kita. Sambil terus percaya, bahwa nanti saat kita udah menyelesaikan semuanya, dan nengok ke belakang, cerita itu akan selalu kita kenang. :)

Yaaaah pokoknya.... Remember, this is what we came here for. Our end is near, but another great things is about to begin. An answer to the struggle we've made for these 3 years. New beginning, new atmosphere, new surroundings, new knowledges, new challenges, and new life is waiting to see us. :)

Sampai berjumpa lagi temen-temen, di seminar, dan in shaa Allah, di GWW, dengan sebuah toga dan senyum bahagia dari orang tua kita. :')

P.S: I will always love you.




Yeah, you can be the greatest
You can be the best
You can be the King Kong banging on your chest

You can beat the world

You can beat the war
You can talk to God, go banging on his door

You can throw your hands up

You can beat the clock (yeah)
You can move a mountain
You can break rocks
You can be a master
Don't wait for luck
Dedicate yourself and you gon' find yourself

Standing in the hall of fame (yeah)

And the world's gonna know your name (yeah)
'Cause you burn with the brightest flame (yeah)
And the world's gonna know your name (yeah)
And you'll be on the walls of the hall of fame

You can go the distance

You can run the mile
You can walk straight through hell with a smile

You can be the hero

You can get the gold
Breaking all the records they thought never could be broke

Yeah, do it for your people

Do it for your pride
How are you ever gonna know if you never even try?

Do it for your country

Do it for your name
'Cause there's gonna be a day...

When you're standing in the hall of fame (yeah)

And the world's gonna know your name (yeah)
'Cause you burn with the brightest flame (yeah)
And the world's gonna know your name (yeah)
And you'll be on the walls of the hall of fame

Be a champion, be a champion, be a champion, be a champion

On the walls of the hall of fame

Be students

Be teachers
Be politicians
Be preachers

Be believers

Be leaders
Be astronauts
Be champions
Be truth seekers

Be students

Be teachers
Be politicians
Be preachers

Be believers

Be leaders
Be astronauts
Be champions

Standing in the hall of fame (yeah, yeah, yeah)

And the world's gonna know your name (yeah, yeah, yeah)
'Cause you burn with the brightest flame (yeah, yeah, yeah)
And the world's gonna know your name (yeah, yeah, yeah)
And you'll be on the walls of the hall of fame

Hall of Fame - The Script ft. Will.i.am

Gue suka, suka, suka bangeeeeettt sama lagu itu. Saking suka nya, gue bahkan bisa dengerin berulang kali, setiap hari. Emang nggak ada sih lagu-lagunya The Script yang nggak enak, dengan lirik yang selalu "ih ini gue bangetttt!" Hahaha. That's why I love that band soooooo much :D

Lagu ini punya arti yang cukup dalem buat gue. Coba aja dengerin sambil resapin liriknya. Gue selalu dengerin kalau lagi sedih, patah semangat, kesepian, dan ngerasa down. And this song never fails to lift my spirit up! :))) Karena, Hall of Fame ngajarin buat jangan pernah takut, ragu, ataupun pesimis. Lo bisa jadi apapun yang lo mau, asal lo mau ngelakuin itu.

Yes, don't look and wait, but search and walk instead. With that, we will get whatever that we want and keep us going. Sekarang gue selalu ngingetin diri gue sendiri, bahwa gue masih muda, gue nggak tau umur gue sampai kapan, dan banyak banget hal serta mimpi yang pengen gue capai. Jadi, daripada gue terkukung sama segala yang bisa bikin gue sedih, nggak nyaman, nggak bikin gue menjadi "apa-apa" dan nggak membuat gue "kemana-mana", gue milih buat "terbang". Selama ini gue selalu berpatokan sama "ending" yang gue tuju, dan gue nggak sadar bahwa pada saat proses dan perjalanannya itulah gue ngalamin dan ngedapetin banyak hal, terutama pelajaran-pelajaran berharga, yang kadang justru bikin kita merubah haluan kita, menuju "ending" yang baru. The most certain thing in life is uncertainty itself. Nggak ada yang pasti dalam hidup, tapi yang pasti adalah kita harus punya mimpi yang kita pengen capai, dan kita harus usaha buat mencapai itu.

Sekarang, gue pengen hidup dengan optimisme dan semangat positif. Susah, jelas. Kadang gue juga masih nggak tau mesti ngapain, dan mau jadi seperti apa. Kadang gue ngerasa suntuk, jenuh, dan mumet sama hidup gue sendiri. Mau dibawa kemana sih ini? Apalagi sekarang udah kayak masuk masa transisi lagi, ninggalin kehidupan lama menuju kehidupan baru, yang gue belum tau akan seperti apa didepannya. Sepi, pasti. Karena satu per satu orang-orang, tempat-tempat, dan kebiasaan-kebiasaan yang udah ada selama ini semakin pudar dan pada akhirnya meninggalkan kita, atau kita tinggalkan. Gue biasanya susah banget ngadepin situasi yang kayak gini, karena berat banget keluar dari comfort zone, dan masuk ke "rimba" yang baru. Tapi sekarang gue ngebalik pola pikir gue, justru ini kesempatan buat gue untuk lebih banyak lagi kenal dunia.

Trying new things allows you to discover what you love, what you're passionate at, what you really want in life, and what you're good at. Kuncinya sih itu sebenernya, berani buat nyoba hal baru. Dalam konteks yang positif ya pastinya. Dan sebenernya bukan masalah berani atau nggak juga sih, tapi mau atau nggak-nya, males atau nggak-nya. Sekali lagi, gue men-camkan ini ke diri gue, to urging myself to do whatever I want to do. Because in the end, who's left in my life? Iya, pada akhirnya kita memang sendirian kok, pasti. And I guess it's all up to me to make things the way I want them to be, because I can turn it all around if... I actually try. Jangan pernah takut buat nyoba. You fall, you get up. And fall again. And get up again. What doesn't kill you only makes you stronger. As cliché as it sounds, but that's true.

You just have to do the things you love, and do it well. Lakuin apa yang bisa bikin kita seneng, dan coba untuk berbuat baik dan ngasih manfaat ke orang lain dengan ngelakuin apa yang kita suka itu. Satu hal yang paling gue pelajarin sih, jangan pernah ngelakuin sesuatu cuma biar "dilihat" sama orang. That way, you’ll never get tired of doing things only to impress people. Karena, nggak perlu ada di tengah-tengah panggung buat bikin orang 'ngeh sama eksistensi kita, just do whatever you love, as long as you are happy, and you can give happiness towards other with doing it. Dengan gitu, orang akan inget sama kita, dan kita akan inget bahwa diri kita berharga. :))

Gue sih nggak maksud ceramah atau biar keliatan keren dengan nulis kayak gini, sebenernya ini juga sebagai "alarm" buat diri gue sendiri. Semakin gue banyak kenal orang, semakin gue ngerasa "capalah aku iniii cuma rempah-rempah biskuit". Tapi biarlah mereka jadi "pemenang" dijalurnya mereka, dan gue jadi "pemenang" dengan cara gue sendiri. Yang paling sederhana tapi membahagiakan adalah saat gue bisa menang dari rasa takut, males, dan pesimis gue sendiri. Jadi, semoga post ini bisa jadi sedikit lecutan semangat saat gue, dan kalian ngerasa down dan pengen nyerah. Inget buat terus kejar mimpi-mimpi kita, demi diri kita, keluarga, dan orang-orang yang sayang sama kita.

 Be a champion! :D
 
Bismillahirrahmanirrahim.


Saya sudah mengetahui sepak terjang Bapak Anies Baswedan sejak tahun 2011 melalui akun @aniesbaswedan, dimana Beliau merupakan penggagas program Indonesia Mengajar. Dari situ, saya menilai bahwa Pak Anies merupakan seorang pendidik yang begitu baik. Seorang pendidik yang mempunyai mimpi besar untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, sampai kepada seluruh penjuru negeri ini. Saya lalu mulai mengagumi sosok Anies Baswedan. Bayangkan saja, siapa yang mampu menggerakkan puluhan ribu anak muda Indonesia, yang cerdas dan memiliki kesempatan untuk bermasa depan cemerlang, namun memilih mengabdikan satu tahunnya hidup di pelosok negeri, menyampaikan ilmu pengetahuan kepada adik-adik kita, saudara-saudara kita yang bahkan eksistensinya tidak pernah dipedulikan pemerintah kita sendiri?


Suatu hari, beberapa bulan yang lalu, saya melihat di linimasa bahwa Pak Anies memutuskan untuk ikut dalam konvensi calon presiden Partai Demokrat. Seperti teman-teman lainnya, reaksi saya yang pertama kali keluar adalah: kenapa harus Demokrat? Dengan pandangan skeptis saya terhadap partai tersebut, saya tidak mau seseorang yang bersih dan bermartabat seperti Pak Anies ikut ternodai oleh panggung politik yang kotor. Namun setelah Pak Anies menyampaikan gagasan dan penjelasan Beliau, didukung oleh pandangan dari berbagai pihak seperti Bang Pandji dan Edward Suhadi (bisa dibaca di blog nya), saya pun mulai memahami keputusan Pak Anies.


Dan saat itu juga, saya memutuskan, bahwa SAYA HARUS MENDUKUNG SEORANG ANIES BASWEDAN.

Saat sebuah gerakan relawan @turuntangan dicetuskan, saya langsung mendaftarkan diri untuk ikut bergabung. Sejak saat itu, saya aktif menyebarkan berita-berita tentang Pak Anies di segala media sosial. Namun, peran saya hanya sebatas itu. Rasanya, saya belum 100% turun tangan di gerakan ini. Saya masih terlalu malas dan mungkin, canggung, untuk mulai ikut berbagai kegiatan yang diadakan oleh para relawan.

Tapi hari ini, Minggu 2 Maret 2014, benar-benar sebuah hari yang dapat saya katakan, menggetarkan seluruh pikiran dan hati saya.

Saya datang menghadiri debat konvensi di Bogor dengan sebuah rasa ingin tahu yang sangat besar. Bagaimana sesungguhnya Pak Anies dan relawan turuntangan. Dan dari kurang lebih 10 jam yang saya habiskan berada ditengah-tengah para relawan, sungguh merupakan sebuah pengalaman yang tidak bisa terbayarkan oleh apapun.


Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana orang-orang hebat, dari Aceh sampai Papua, anak kecil sampai yang sudah tua, semua berkumpul bersama seorang Anies Baswedan menyuarakan pesan-pesan dan harapan untuk bangsa. 

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana orang-orang hebat, saling bahu membahu untuk membantu seorang Anies Baswedan demi sebuah mimpi mewujudkan Indonesia yang maju.

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagimana orang-orang hebat, berdiri disana, tanpa diminta dan tanpa dipaksa, untuk mendukung seorang Anies Baswedan demi sebuah perjuangan. Bukan karena bayaran, bukan karena iming-iming banyak hal.

Dan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana seorang Anies Baswedan mampu mempersatukan kami, yang saling berbeda usia, pekerjaan, golongan, suku dan daerah, namun pada akhirnya menjadi satu, menggulung lengan baju, ikut turun tangan membawa sebuah perubahan besar untuk negeri ini.


Karena seorang pemimpin yang saya impikan bukan hanya yang tinggal duduk santai memerintahkan ini dan itu, namun yang mau turun tangan membereskan secara langsung permasalahan yang membelenggu.

Saya memang buta soal politik. Tapi saya tidak buta untuk mendukung orang baik yang harus masuk ke politik.

Saya memang hanya seorang anak muda. Tapi dengan itu saya mampu untuk melakukan banyak hal dimasa depan.

Tadinya, saya seperti teman-teman. Saking muaknya dengan panggung politik, saya bahkan tidak peduli lagi siapa yang akan duduk disana, disinggasana tertinggi yang katanya hasil pilihan rakyat.
Tadinya, saya seperti teman-teman. Saking lelahnya dengan seluruh permasalahan di negeri ini, saya bahkan hanya bisa mengeluh, mencibir dan memaki, biar negeri ini sekalian sekarat.


Namun seorang Anies Baswedan mampu menyadarkan saya, bahwa lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Hari ini, saya menyaksikan langsung bagaimana setiap kata demi kata yang disampaikan oleh seorang Anies Baswedan mampu menggetarkan siapapun yang mendengarkannya, bahkan hingga menitikkan air mata. Bukan lewat orasi yang berapi-api, atau penjelasan-penjelasan panjang yang begitu bercabang, namun lewat sebuah harapan dan cita-cita mulia, yang sangat, sangat sederhana.

Melunasi janji kemerdekaan.


Maka hari ini, saya mempunyai sebuah cita-cita baru. Bahwa, saya ingin lebih banyak lagi orang-orang yang ikut turun tangan. Karena untuk mampu memajukan bangsa yang besar ini, tidak cukup hanya dengan satu Anies Baswedan. Negeri ini milik kita, dan akan kita wariskan kepada anak cucu kita nantinya. Oleh karena itu, saya ingin lebih banyak lagi teman-teman saya meninggalkan kursi nyamannya, untuk mulai bergerak bersama. Karena kita yang muda yang akan memimpin masa depan.


Saya memulainya dengan percaya. Percaya bahwa kita akan membawa sebuah perubahan besar. Bahwa seluruh orang disana akan melihat, rakyat Indonesia tidak butuh pemimpin yang setiap hari wara wiri di tivi bahkan sampai punya acara sendiri, bahwa rakyat Indonesia tidak butuh pemimpin yang sibuk ikut 'nyempil' tampil di setiap konser demi sebuah citra yang spektakuler, bahwa rakyat Indonesia tidak butuh pemimpin yang hanya bisa membayar seratus ribu rupiah per orang demi mendapatkan suara dan dukungan.


Indonesia membutuhkan pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat dicontoh oleh rakyatnya.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakan rakyatnya, untuk bersama-sama, turun tangan membangun dan mensejahterakan seluruh bangsa.

Dan seorang Anies Baswedan mampu melakukan semua itu.

Pejuang bukan? Hadapi!

Newer Posts
Older Posts

Hello, It's Rima!

Hello, It's Rima!
A free-spirited hippy type that often get soaked from dive so deep into her complex thoughts and a lot of big feelings.

Labels

asi vs sufor engagement korean drama life menujurrumah parenthood Rania review film rima's k-drama recap

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Three years later....
  • ►  2020 (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (35)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2015 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2014 (40)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2013 (18)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (31)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)

Find something

Most Popular

  • Apa Cita-Citamu?
  • Everybody's Changing
  • Lumos
  • Do Something, Make Something
  • We Can't Wait Forever
  • Nozomi, A Hope
  • "Kalau nggak enak, kasih kucing aja"

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates