twitter instagram linkedin
  • HOME


"Kerjaan lo kok enak banget sih?", saya cuma bisa bilang aamiin dan alhamdulillah setiap denger kata-kata itu, sekaligus sangat bersyukur. Tapi nggak sedikit juga yang heran, menentang, sampai meremehkan apa yang saya kerjakan. Termasuk seorang "temen" lama ini.

Kemarin, seorang temen tersebut ngehubungin saya dan menyuruh untuk apply-apply ke beberapa perusahaan besar yang lagi buka lowongan kerja. Lalu saya nanya dong, "Loh kan saya udah kerja? Kenapa harus daftar?", dan dia bilang begini, "Kamu dari dulu nggak maju-maju, selalu diem di tempat aja. Kalopun maju, ya paling cuma selangkah-selangkah."

Enggak, saya nggak sakit hati dibilang gitu, cuma kesel aja. Hahaha enggak deng. Tapi dari beberapa tanggapan orang lain tentang apa yang kita lakukan tersebut, kita bisa tau, akan selalu ada orang yang setuju dan tidak setuju, akan selalu ada orang yang senang dan tidak senang, juga akan selalu ada orang yang menghargai dan meremehkan kita.

Tapi yang paling penting, setiap orang BERHAK untuk mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaan mereka masing-masing. Inilah kenapa saya sering banget berkoar-koar tentang passion.



Ngelihat temen-temen saya yang udah sukses berkarir di perusahaan-perusahaan besar, punya gaji yang lebih dari cukup, masa depan yang *kayaknya* terjamin, pasti bikin kita mupeng. Tapi yang paling bikin saya iri adalah, ngelihat orang-orang yang tau, dan yakin dengan apa yang mereka kerjain.

Itu yang mahal.

Yang lebih mahal lagi adalah orang-orang yang menikmati apa yang mereka kerjain. Klise banget nggak sih? Tapi seorang temen saya, yang kerja di perusahaan gede di bilangan Sudirman, yg tiap hari pulang malem, bilang gini kira-kira, "capek banget setiap hari gini, kita tuh udah kayak robot."

Kalau sukses dan bahagia cuma diukur dengan penggaris "uang", menurut saya kok rasanya sempit banget. Siapa sih yang nggak butuh uang? Saya nggak bilang uang itu nggak penting ya. Kita ya nggak bisa hiduplaaah kalau nggak ada uang. Yang bilang uang bukan hal yang penting kayaknya cuma orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya, orang-orang yang sudah merasa cukup.

Cukup. Itu kata kuncinya. Nah, sampai sejauh mana kita merasa cukup, setiap orang mengukurnya dengan berbeda-beda.

Waktu diskusi sama Kang Donny, yang udah berpuluh-puluh tahun di Chevron, kebanyakan orang cuma pengen sukses, tapi sebenernya belum tau, sukses yang kita pengenin itu yang kayak gimana. "Gue pengen ngebahagiain diri gue sendiri, orang tua gue." Nah, ngebahagiainnya itu ukurannya gimana? Apa ngeberangkatin orang tua pergi haji? Atau punya mobil 12? Atau cukup dengan makan 3× sehari terjamin, tidak ada tanggungan apa-apa? Jadi mulai sekarang, buat kita semua yang pengen sukses, kita harus mulai mikir dan ngerasain, sukses kayak gimana yang pengen kita capai. Selengkapnya formula-formula sukses Kang Donny ada disini.

Kaitannya sukses, uang, dan memilih pekerjaan dengan passion adalah gini, kalau kita bisa bekerja sesuai passion kita, dan menghasilkan uang, yang akan membawa kita mencapai kesuksesan yang kita mau, kenapa enggak dijalanin kan?


Nggak ada pekerjaan yang gampang. Apapun yang kita lakuin, apalagi di usia duapuluhan ini, pasti penuh dengan kegalauan, kebimbangan, keputusasaan, dan keinginan untuk nikah aja :")) hahahaha. Jadi saya mencoba meminimalisir kegundah gulanaan itu dengan tidak memaksakan diri untuk melakukan apa yang sebenernya bukan saya banget.



Mungkin apa yang temen saya bilang emang bener, dibanding dia yang udah lari kenceng ke jalan suksesnya dia, saya masih jalan selangkah-selangkah. Mungkin dia si kelinci, dan saya si kura-kura. Tapi ini bukan perlombaan siapa yang paling cepat mencapai garis finish. Ini tentang menjalani, dan menikmati hidup.

Siapa tau, saya, dan kamu semua yang merasa seperti kura-kura, dengan jalan kita yang selangkah-selangkah itu, kita bisa lebih banyak melihat sekitar, lebih banyak bertemu orang-orang, lebih banyak pergi ke tempat-tempat menyenangkan, dibandingkan para kelinci yang terlalu fokus untuk berlari dengan cepat sampai semua yang ada disekelilingnya menjadi buram dan tidak terlihat. Tapi si kelinci juga bukan berarti salah, siapa tau dengan ia berlari cepat, nanti ia akan lebih cepat juga sampai di sebuah tempat yang menyenangkan.

Bahagia dan suksesnya saya, dengan bahagia dan suksesnya kamu semua, pasti beda-beda.

Sekali lagi, tidak ada salah dan benar tentang sukses dan bahagia. Hak setiap diri kita untuk menentukan dan merunutkan langkah-langkah dan rute-rute yang akan kita tempuh. Yang salah adalah jika kita cuma bisa bermimpi. Mimpi dibuat bukan hanya untuk diimpikan, tapi untuk diwujudkan.

Jangan terjebak dengan sebuah "profesi". "Profesi hanyalah peran, dan peran bisa berubah sesuai dengan kebutuhan. Yang esensial adalah, bagaimana kita bisa menghasilkan karya, kita bisa berkinerja dalam pekerjaan kita. Itulah yang dinamakan dengan karir." -ReneCC.

Jadi kalau saya ditanya sekarang, "kok kerjaan lo enak banget sih?" Atau, "kok lo malah kerja gituan sih?", mungkin buat saya ini kayak lagi traveling dan singgah. Untuk sampai di tujuan saya, saya memutuskan untuk singgah di banyak tempat. Persinggahan saya yang pertama, adalah menjadi reporter, atau saya lebih suka disebut content writer ajah :") enak atau tidak enaknya, sebenernya itu adalah pilihan tentang bagaimana kita mau memperlihatkannya. Baaaanyak banget privilage dan pengalaman keren yang saya dapet, tapi juga nggak sedikit unek-uneknya hahaha :")

Tapi apakah saya akan terus jadi reporter? Mungkin iya, mungkin juga enggak. 


Siapa yang bisa tau akan jadi apa kita dalam kurun waktu 1, 5, atau 10 tahun mendatang kan? ;D

"You only have one life to live, so love what you do." -The Script




Ps: terima kasih inspirasinya, saya jadi bisa nulis ini hahahaha :p




Intro dulu.
Assalamualaikum! *bersihin debu-debu di blog*
UDAH EMPAT BULAN NGGAK APDET BLOG!!! Saya merasa sangat gagal :''''(( :'''))
During those 4 months of my absence, there's a loooooot of things going on. And...
Life changes.


Untuk keep up apa aja yang udah terjadi selama empat bulan ke belakang, rasanya saya bisa nulis trilogi novel super tebel tapi nggak erotis kayak Fifty Shades of Grey, dan nggak akan ada yang mau baca, dan males juga nulisnya.  But for my own sake, karena saya udah komit sama diri sendiri untuk (setidaknya berusaha) selalu menulis semacam jurnal perjalanan semasa hidup, I will try to recap 4 bulan kemarin dalam satu garis besar, yaitu ketika hidup berubah.



***

"Life Changes" chapter 1: After graduated, what's next?

Lulus kuliah dari bulan Juni 2014, nganggur nungguin wisuda bulan September 2014, dan masih belum dapet kerjaan sampai bulan November 2014, bikin otak dan hidup saya bener-bener kerasa hampa. There were hard times, a lot. "Udah lulus kuliah ya? Kerja dimana sekarang?" pertanyaan-pertanyaan dari temen, saudara, tante, om, dan bahkan orang-orang yang baru dikenal jadi salah satu tekanan yang emang nyata ya ternyata! Hahahaha :") Selain pertanyaan-pertanyaan dari orang lain yang nggak ada habisnya, pertanyaan-pertanyaan lain juga dateng dari dalam diri saya, ketika temen-temen satu persatu bekerja, ketika saya gagal di satu per satu tes yang saya ikutin. Sampai satu ketika saya nanya sama diri saya sendiri, sebenernya gue mau ngapain ini?

In million times I said, and in million times other people said: Rima itu salah jurusan.
Clearly. Saya emang nggak ada potongan anak teknik sedikitpun. Tapi saya nggak pernah mikirin itu terlalu serius sampai pada akhirnya lulus kuliah. Oke gue udah lulus nih, udah jadi sarjana teknik. Lalu selanjutnya apa? Apply ke perusahaan-perusahaan konstruksi, pasti. Nyoba program MT di bank-bank, udah juga. Ikutan temen-temen ngelamar apapun asal nggak ketinggalan, iya juga. Tanpa sebenernya saya pernah mikir mau jadi apa. Yang penting pada saat itu: dapet kerja.


***

"Life Changes" chapter 2: Maybe I should try something different.

Sampai akhirnya, penolakan dan kegagalan berkali-kali bikin saya pengen nyerah aja. Tapi disatu sisi, saya juga nggak mungkin nyerah nyari kerjaan. Lalu waktu itu saya curhat ke seorang temen, and he said one statement I never thought before, "Kenapa harus maksain kerja di bidang teknik? Kenapa nggak coba cari kerja yang lo suka?" Tanggapan saya waktu itu cuma ketawa garing, dan bilang, "Ah lo mah nggak ngebantu!". Tapi sehabis itu, berhari-hari setelahnya saya jadi makin kepikiran, iya ya, apa gue harus jadi insinyur?

Dan munculah sebuah pikiran itu, maybe I should try something different. Tapi saya bukan orang yang beruntung dilahirin punya bakat nyanyi, punya badan cakep bak model, atau apapun lainnya yang bisa dijadiin ladang karir. Saya akhirnya nanya lagi ke orang yang sama, "Trus gue mesti ngapain dong?" dan dia ngejawab dengan sangat simpel, "nulis." dengan lanjutan "daripada lo nyampah doang di blog."

Nggak pernah kepikiran sama sekali buat saya bahwa "menulis" adalah ability yang bisa saya jual. Selama ini saya nulis di blog emang cuma nyampah, atau mungkin saya harus ubah, bukan nyampah, tapi membuang sampah. Pada tempatnya. Karena waktu itu depresi banget nggak tau mau ngapain, mulai lah saya browsing-browsing lowongan *apapun* yang basicnya adalah menulis. Reporter, copy writer, content writer, dan segala macamnya, saya mulai pelajari tentang profesi-profesi itu.

Lalu nggaaak lama setelah saya kirim lamaran ke beberapa tempat, saya dapet panggilan buat jadi copy writer di salah satu agency, tapi akhirnya saya tolak karena beberapa hal. Belum sempet hopeless, ada sebuah perusahaan media online dan cetak yang ngehubungin. Setelah beberapa kali tes, ngobrol-ngobrol, dan observasi, saya akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dunia jurnalistik, dengan titel baru: reporter.


***

"Life Changes" chapter 3: Anak teknik masuk ke dunia jurnalistik

Mungkin saya lebih suka menyebut kerjaan saya sekarang sebagai creative writer/content writer, karena basicnya memang tugas saya adalah menulis. Reporter kesannya beraaaaat dan hebat banget, saya ngebayanginnya langsung Najwa Shihab hahaha. Dari dunia teknik lalu nyemplung ke jurnalistik, itu rasanya aneh banget! But in a good way.

Saya bersyukur banget Tuhan ngasih saya jalan kesini, dengan cara-cara yang nggak diduga. Bayangin aja kan, ibaratnya saya lagi diperjalanan mau ke Bali naik bis, eh bisnya mogok nggak nyampe-nyampe, akhirnya saya disuruh pindah bis, tapi nyampe nya ke Lombok. Dua destinasi itu beda banget, tapi sama-sama indah.

Nulis, selama ini cuma jadi "kebutuhan" buat saya, saat saya ngerasa udah "penuh" dan harus membuang cerita ke dalam sebuah tulisan. Sekarang, nulis mungkin juga jadi "keharusan" buat saya, tapi bukan cuma buat diri saya sendiri, melainkan juga buat orang lain. Gimana saya harus menulis sesuatu untuk orang banyak, setiap harinya, dan bukan cuma to give the news and information, or fact, but to give an impact too buat orang yang baca. Itu cita-cita saya, yang sampai saat ini masih saya coba wujudkan.

Namanya juga anak teknik yang nggak punya basic broadcast atau jurnalistik atau komunikasi sama sekali, saya banyaaaaak banget belajar. Paling utama, pasti harus jadi orang yang tau lebih awal mengenai berita-berita apapun yang mau di inform. Mau nggak mau, saya harus "tertarik" dengan seluk beluk pendidikan, ekonomi, politik, olahraga, fashion, lifestyle, sampai berita-berita nggak penting kayak Haji Lulung dan USB atau UPSnya itu. Lalu saya juga belajar cara menulis yang baik, (kayak belajar bahasa Indonesia lagi, EYD lagi, struktur kalimat lagi), belajar menggali informasi dari orang lain, ketemu orang-orang hebat yang saya wawancara, meliput banyak momen, itu semua jadi ilmu-ilmu baru yang masih harus saya gali dengan daleeeem banget.

To be given this opportunity to arrive in this new world, I can't Thank God enough. Baik buruknya, plus minusnya, semua kerjaan pasti punya hal itu. But the best way to enjoy it, ya dengan dibawa enjoy. Apalagi kalau bisa jalan-jalan gratis, makan gratis, dapet barang-barang gratis, dan semua gratis-gratisan lainnya. Setuju, gaesssss? Hahahaha :p


***

"Life Changes" chapter 4: Trus planning ke depan gimana?

Hah jadi apa? Reporter? Setelah dapet kerjaan, pertanyaan-pertanyaan kepo dari orang emang nggak ada berhentinya. Trus itu karir ke depannya gimana? Trus sarjana tekniknya buat apa? Dan berjuta-juta pertanyaan lainnya, yang juga sudah pernah saya tanyain ke diri saya sendiri. Saya termasuk orang yang percaya bahwa walaupun kita udah punya garis takdir dari Tuhan, kita tetep harus punya rencana mau seperti apa takdir yang kita buat. Ibaratnya,
kita bikin proposal, Tuhan yang ngasih approval.

Jadi insinyur di satu sisi emang menjanjikan banget, baik salary dan karirnya. Tapi saya ngebayangin, akan duduk setiap hari, ngerjain sesuatu yang bahkan saya nggak bisa untuk ngerti, akan jadi apa saya nantinya?

Dari saya banyak ngobrol dengan orang-orang yang udah sukses di bidangnya masing-masing, saya sampai ke satu kesimpulan bahwa, I would rather do what I wanna do. Kenapa passion menjadi penting untuk saya, karena itu adalah anak panah saya yang siap saya lepaskan, kemanapun saya akan menargetkannya.

Saya akan banyak ngebahas tentang passion di post-post berikutnya (kalau nggak males HAHAHA), tapi buat saya sekarang, profesi itu bukanlah sebuah hal yang kaku dan hanya boleh satu. Why I have to choose over what I would and what I should be, if I could have them both? Saya terinspirasi banget dari kata-kata seorang author yang pernah saya interview, dia bilang, "profesi itu hanya peran, dan peran bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan. yang membuat kita memiliki karir adalah, kalau ada karya yang bisa kita hasilkan."

Saya nggak mau tergantung dan terkukung di sebuah "profesi" aja, karena baaaaaanyak banget yang saya pengen lakuin. Saya pengen belajar banyak tentang jurnalistik, komunikasi, bahkan psikologi. Saya juga pengen bisa belajar IT biar nggak gaptek lagi :") Trus bisa graphic design juga cool banget! Pengen ngerasain kerja di agency, jadi PR, jadi CSR, jadi wedding organizer atau bahkan punya wedding organizer sendiri (can I get an Aamiin? hahaha), bahkan mungkin nanti jadi seorang insinyur beneran dan kerja di bidang teknik, sampai akhirnya saya punya satu gol yang mutlak: pengen jadi ibu-ibu yang suka nongkrong di sekolah anak, dan arisan pengajian bareng ibu-ibu lainnya. HAHAHAHA :"""")))) Mungkin nggak bisa semuanya saya capai, tapi setidaknya, saya pengen bisa bilang gini nantinya, "saya SUDAH berusaha ngewujudin mimpi-mimpi saya itu."


***


Life, will always changes. But I have to make sure, it'll take me to the good places.


Lumos.


Keep the dark, sadness, anger, disappoitment, and boredom yourself. Remember only share the happiness, they said.

That's why I write nothing these days.

Life's been pretty dull.

And I was getting drowned in the dark-boredom until finally, I have to raise my wands and say, "lumos!"

I need a getaway. I need a light. I need to write.

And November will soon be pass.

My month. My birthday.
But not exactly my favorite month. Never be.

November is always full of raindrops, muddy grounds, lightning, and dark clouds all over the sky. It's not that I am being ungrateful, because God is pouring His blessing through the rain, I know.
But I dislike the gloomy feeling that followed it. You know, the strange, sad feeling within the drops of rain. And we can only stayed at home, wrap ourself up in the blanket, waiting the sky bright again. I can even write a gloomy poem whenever it rains! :p

Back again.

None of things were special. This year I didn't celebrate my birthday either. I spent the night before on the heavy rain and stuck by the traffic. On all my way, I reflect back what I have achieved, what I have done. And suddenly I was thinking, when will I die? And what have I prepared?
After that, I was not interested anymore to celebrate anything. I didn't even bought a birthday cake my mom told to (in my family, we usually picked and bought our own cake with the money mom gave to us. Mine always goes to Cheese Cake Factory).
I went to home and said to mom, I didn't want a cake, I didn't want anything. And the next day, I gave a present to myself, to stay away from people and the outside world.
Just spent some time alone. One day to reflected my life. Hello, 21.

*

Life's been pretty dull.

And don't expect a wise, positive and motivational post from me because this time I'll let my somber side controls.

Where have I been?

I have been nowhere. This whole time I feel like I am standing on Hogwarts hall, waiting my name to be called by the sorting hat.
Or it's more like I am the waiting list patient who is sitting on the clinic. Can do nothing, can go nowhere.

I feel strange. I feel like wanting to run way from everything. From the society, even sometimes I feel trapped in family. Most of times, I want to be just alone.
I am easily get bored with anything. 
This unexplained bouts of (sort-of) depression when doing tasks that used to make me happy. A desire to surround myself with different settings.
I feel confused, and lost while trying to sort out the contradictions between what I feel and what I now have in my life.
I don't understand why I am acting in that manner, but I am on a battle with this inner conflicts.

They said, maybe it's when you say you are going through a midlife crisis. I frankly don't know what is that mean. 
But I know maybe, it's actually an attempt from my inner self to restart life to better fit, since I am growing up now. 

What I extremely need by now is an open door. To get out from here. I know what will I do once I see the light of this tunnel.
I know what I want to achieve. I know what's my goal, my steps to get them. I made plans. A, B, C. I'm not scared of where the path of life will take me.
I just need this door open, I hope veery fairy berry soon, and then I will be able to raise my wands, say: "accio broom!"



And fly among the sky, maybe with a firebolt.



Ps: I tried "alohomora" to opened the door. Didn't work. :p




Sebenernya saya belum mau nulis tentang ini (baca: masa depan, kerjaan, tujuan hidup, dll dkk nya) sebelum hidup saya udah ketauan mau dibawa kemana. *lalu nyanyi bareng Armada*
Tapi sungguh cerita ini sangat menggelitik dan menggoda untuk ditulis. (Padahal gak penting. Biarlah, biar saya seneng)

Sebenernya saya nggak mau nulis kata ganti orang pertama yaitu saya memakai prosa saya (((saya-caption))), soalnya asa terlalu serius-serius gitu, enakan guweh eloh yaa.
Tapi demi mengubah imej blog ini menjadi bukan-blog-galau melainkan blog penuh manfaat dan demi terbentuknya citra saya sebagai wanita yang dewasa serta bijaksana, baiklah persoalan ini kita sudahi saja.

*****

Hari ini saya menghadiri interview (untuk ke-1000 kalinya. Maksudnya 20 dikali 50, biar keliatan banyak ajah) sebuah perusahaan besar di daerah Thamrin. Ekspektasi saya, pertanyaan interviewnya akan sama kayak biasanya. Cerita tentang diri pribadi, pengalaman organisasi, kenapa memilih perusahaan ini, dan sedikit pertanyaan-pertanyaan tentang bidang yang akan dilamar. Oke, jawaban saya udah hafal diluar kepala. Tapi tadi, bapak HRD yang menginterview saya memberikan pertanyaan yang agak lain dari biasanya.

Karena yang dipanggil interview cukup buanyaaakk (saya nomer urut 65), sistem wawancara dilakuin bukan sendiri-sendiri, tapi keroyokan. Bukan, bukan anak kampung sini (akamsi) lawan anak kampung seberang (akambrang. Iye jelek amat singkatannya hakhak), tapi satu orang HRD langsung mewawancarai 2 sampai 3 orang sekaligus.

Giliran saya, saya masuk bersama dua cewek lainnya. Setelah basa basi memperkenalkan diri, si Bapak HRD cuma memberikan 4 pertanyaan yang dijawab giliran oleh kami. Pertanyaan pertama, apa yang kamu lakuin kalau nanti kamu menikah, suami kamu nggak mengizinkan kamu untuk menjadi wanita karir?
Kedua, apa kamu tertarik menjadi PNS?
Ketiga, kenapa kamu tertarik bekerja di perusahaan ini?

Dan pertanyaan terakhir,
apa cita-cita atau tujuan hidup kamu?

Ketiga pertanyaan pertama saya jawab dengan sangaaaatttt normatif, klise, daaaan menjilat. :p hypocrite I knoooow, but guess everybody did it, aite?

Lalu sampai pada pertanyaan terakhir tersebut.
Cewek 1 menjawab: cita-cita saya yaitu bekerja sesuai dengan passion saya, dan passion saya adalah bidang *:!&!6!&!_.!&!( seperti di perusahaan ini.
Cewek 2 menjawab: saya ingin apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi orang lain, mendidik orang lain, apalagi bekerja sesuai dengan syariat-syariat islam. (Bookkkk iyeee mentang-mentang perusahaan islam hakhak)

(Oh ya, mereka ngejelasinnya lebih panjang dari itu ya, ini saya tulis intinya aja. Kalau semuanya diceritain, namanya pelanggaran hak cipta. Saya belum punya uang untuk bayar royalti huhuw)

Oke.
Sambil mendengarkan jawaban-jawaban itu, saya juga udah nyiapin jawaban yang nggak kalah sok bijak-tapi emang bener- nya. Seperti biasa.
Gini nih,   
In a short term, I want to, quickly, get a job. As a fresh graduate, I really hope there’s a company will give me an opportunity to work, to be able to gain my skills and experiences. In a long term, I want to have a good, promising, and well established career. I want to be create something, contribute something, and become something imprortant in my company. I want to have a lot of experiences, visited many new places, and giving a good deeds to others.

Tapi tiba-tiba, saya pengen memberikan jawaban yang lain. Jawaban yang lebih nyata, jawaban yang lebih jelas.

Lalu dengan spontan saya jawab: "my goal is, saya ingin punya keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah, dan sejahtera dunia akhirat."

.................

Lalu semua mata tertuju padaku. Trus ada efek angin-angin dan temennya Jason (di film Inikah Rasanya itu looooh) dateng ngiler-ngiler. Gadeeeeengggg. But for a moment itu bener langsung hening, and literally, they (si Bapak HRD dan dua cewek itu) laugh at me.

Setelah (bener-bener) puas ketawa, si Bapak HRD nanya: "jadi kamu pengen jadi ibu rumah tangga? Emang kamu mau nikah umur berapa? Udah ada calonnya belum?"

So I explained this.....

Begini, Pak. Saya tidak munafik, saya yakin semua perempuan punya cita-cita yang sama seperti saya. And that's like the end destination of my long journey. Untuk sampai pada tujuan akhir itu, saya punya tempat-tempat yang harus saya singgahi, dan tangga-tangga yang harus saya lalui.
Sebelum berkeluarga, saya butuh menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban saya terlebih dahulu. Sebagai anak, saya harus membahagiakan kedua orang tua saya. Menggantikan mereka untuk mencari nafkah, karena saya anak tertua. Saya ingin membiayai kelanjutan sekolah adik saya. 
Dan sebelum berkeluarga, saya butuh mengumpulkan modal. Saya membutuhkan pekerjaan, saya butuh menabung untuk pernikahan, saya ingin punya kendaraan dan rumah sendiri.
Lalu setelah berkeluarga, saya ingin membantu suami saya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga saya nantinya.
Dan itu bisa saya capai dengan memiliki karir yang baik, stabil, dan menjanjikan.

Syedaaaappppp yah :'))

Tapi percaya deh, aslinya nggak sesedap itu. Setelah saya ngomong panjang lebar itu, itu beneran semua diutarain kayak diatas, trus tiba-tiba saya kayak sadar sendiri. "Anjrit ini gue abis kesirep apa gimane siiih. Busetttt ngapain gue ngomong begonooooo haaaahhhhh -_-"

Lalu saya menyesal.

The end of the interview. Si Bapak HRD sih ngangguk-ngangguk ketawa dan nyalamin saya pas di akhir, sementara saya udah malu bangeeeettt langsung buru-buru keluar ruangan. Lagian si Bapak nanyanya kan tujuan hidup, bukan tujuan pekerjaan atau tujuan karir. Ya kepancinglah gue curhat! Luluh lantaklaaaaahh interview gue kali iniiiihhh hakhakhakhak.

Tapi yang tadi itu jadi mengganjal di pikiran sampai saya nulis post ini.

Beberapa hari sebelumnya, saya sempat diskusi dengan seorang temen tentang hal ini. Tentang prioritas-prioritas dalam hidup. Waktu itu sih emang tema utamanya (lagi-lagi) soal kegalauan percintaan. Maklum, dokter cinta. Ehem. (Padahaaaaaaal..... hahahaahahaha)

Waktu itu temen saya bilang nggak mau mikirin cinta-cintaan karena banyak banget yang lebih penting yang harus dia pikirin. Pasti yang temen saya pengenin ini sama deh sama kita semua. Kayak gini contohnya:
-Ngebahagian orang tua
-Punya kerjaan tetap
-Berangkatin orang tua pergi haji
-Jadi direktur
-Punya rumah tingkat 5 dan pake lift biar ngalahin rumahnya Nagita Slavina
-Beli lamborghini 10 ajah
-Keliling dunia 7 kali
-Punya calon istri secantik dan secerdas Dian Satro atau punya calon suami kayak Junot
-dll dll dll
Sampai akhirnya...
Nikah.

Bener kan? Yakan? Yakaaaan?

Kebanyakan, atau sebagian, atau beberapa (karena saya belum nyewa lembaga survey yang akurat buat penelitian ini) ujung-ujungnya bermuara sama satu tujuan akhir.

Naaaaah jadi, mungkin saya pengen ubah pola pikirnya, bukan cinta itu kalah penting dengan hal-hal lainnya. Atau misalnya, aaah ntar ajadeh mikirin bahagiain orang tua mah, yang penting dapet kerjaan deh nih. Sebenernya, semua prioritas kita itu saling berhubungan dan berkelanjutan kok satu dengan yang lainnya, nggak bisa dipisah-pisahin dan disingkir-singkirin. Tapi ibarat level-level di Mario Bros yang harus kita selesaikan satu persatu dulu.

Misalnya, menurut kamu, prioritas paling utama kamu saat ini adalah punya pekerjaan. Naaah untuk punya pekerjaan, kan harus ada step-step yang kamu harus jalanin terlebih dahulu. Misalnya, bikin cv, ikut job fair, dll. 

Atau prioritas utama kamu adalah membahagiakan orang tua. Selain kamu harus punya kerjaan baik, beliin orang tua apa yang diimpikan, dll dll, ngasih menantu dan cucu juga termasuk membahagiakan orang tua loh *teteup* HAKHAK

Atau lagi. Pokoknya impian kamu yang paling paling paling kamu pengenin tuh punya istri yang sexy nya kayak Scarlett Johanson. Nah sebelumnya, kamu harus punya harta selangit, punya mansion di Hollywood, dan operasi plastik dulu.

Satu kutipan yang sangat saya suka dan sekarang jadi "alarm" buat saya:


Setuju nggaaaak? Aku sih yes ya :3 Untuk mencapai apa yang kita inginkan, kita harus punya target dan rencana yang jelas. Yang harus kita runut dari apa yang kita dapat lakukan dalam waktu yang paling dekat, lalu step-step selanjutnya, untuk pada akhirnya kita sampai pada tujuan utama. A big picture of our life's purpose.

Cita-cita itu layaknya nenek moyang dalam family tree, letaknya di paling atas. Naaah dibawahnya ada cabang-cabang yang dihasilkan dari sebagai runutan langkah untuk sampai ke si cita-cita. Bingung nggak? Hahahaha gini nih misalnya mindmapingnya.

JANGAN PROTES! INI BIKINNYA DI HAPE. SUSAH TAUUUKKK JARINYA KEGEDEAN :(

Nah si kaki-kaki itu nanti punya anak-anak lagi. Misalnya buat jadi wanita muslimah harus nggak boleh bolong sholat, sering ikut pengajian, atau rajin beli bukunya Ust. Felix Siauw :p

Tentu, human writes their own story, but only God capable to agree with it.

Tapi bukan berarti kita cuma bisa memasrahkan segalanya sama Tuhan. Kita tetep harus punya goal dalam hidup, tujuan kita mau apa dan kemana. Naaah untuk menuju kesana, ada banyaaaaaakkk persimpangan-persimpangan jalan yang kita temui, rute-rute alternatif yang akhirnya kita pilih, dan oleh-oleh baru yang bisa kita bawa. 

Jadi bener banget nasehat waktu kita kecil dulu: gantungkanlah cita-citamu setinggi langit

Iya! Cita-cita memang harus tinggi! Dan yang perlu kita lakukan adalah membuat anak-anak tangga untuk mencapainya. Tangganya, bisa dari kayu, marmer, bentuknya melingkar, lurus, atau muter-muter kayak jembatan penyebrangan busway di Grogol.

Jadi, apa cita-citamu? :D





Recent song on play: Keane - Everybody's Changing

Manusia, memang penuh kenaifan ya.

Ketika kita sedang berbahagia, serasa dunia hanya milik kita dan waktu seolah berhenti untuk ikut merayakan, kita tidak akan pernah mau mengingat, bahkan berusaha melupakan dan melenyapkan kenyataan, bahwa semua hanyalah sementara. Bahwa semua hal akan berujung pada akhir. Bahwa kepastian paling pasti dalam hidup adalah ketidakpastian. Dan bahwa kita, semua, ditakdirkan untuk kembali pada kesendirian.

Dan barulah saat harinya datang, ketika kita harus kembali melepaskan dan merelakan, lalu menumpahkan segala kesedihan akan kehilangan, kita tersadar, bahwa inilah harga yang harus selalu kita bayar dari sebuah pertemuan, yaitu kembali pada perpisahan.

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan cerita seorang teman. Bagaimana ia memutuskan untuk tidak lagi berharap kepada manusia. Because everybody's changing. Tidak ada yang pasti dalam hidup, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa masa depan akan seperti apa yang telah kita impikan. Maka ia memutuskan pasrah dan menjalani dalam kesendirian.

Tanggapan saya waktu itu:

"Lo terlalu sombong, untuk nerka-nerka masa depan. Menurut lo ikhlas itu kalau lo UDAH terpaksa nerima suatu keadaan? Ikhlas justru nerima apapun keadaan yang AKAN terjadi. Kalo lo sekali ketabrak mobil, trus lo trauma akhirnya gak mau keluar rumah lagi, gimana lo bisa hidup?

Setelah saya baca-baca lagi.....

Gile, sotoy amat gue!  Hahahaha

Temen saya itu beneeeeeeer banget. Kayak yang saya bilang di awal, manusia memang naif, merasa memiliki segalanya. Namun ketika sesuatu itu hilang, baru kita sadar kalau sebenarnya kita tidak pernah memiliki apapun.

Contoh gampangnya: cinta-cintaan.

Guess I don't have to talk about this thing much yaah :))) We all know that love is a real-but-delusional feeling, at the same time. When we were in love, semuaaaaaaa indah. Pokoknya setiap saat bersamanya terasa paling membahagiakan deh. People do craziest things for love, walaupun bentuknya berbeda-beda. Cinta itu emang manis, semanis janji-janji yang diucapin. "Kita pokoknya bareng-bareng terus yaaaah :3" "Nanti kita punya anak 11 ya, biar rumah kita rame!" "Nggak adalaah yang bisa misahin kita sampe maut menjemput huhuwww" daaaaaan berjuta kata-kata indah lainnya.

Atau contoh lainnya, pertemanan.

Kita punya BFFFFFFFFFFFFFFF sampe F nya nggak terhingga banget deh. Pokoknya selama di sekolah atau kampus, ngapa-ngapain selaluuuuuu bareng-bareng, nggak terpisahkan. "Kita tetep sahabatan ya sampe tua nanti!" "Lo kalo ada apa-apa cerita aja ke gue!" sekali lagi, dan berjuta kata-kata indah lainnya.

But time flies.

And everybody's changing.

Coba deh, berapa kali kita ngalamin yang namanya putus cinta dan patah hati? Baruuuu juga dua hari abis bilang I love you so muuuch, lalu tiba-tiba diselingkuhin. Baruuuu abis kangen-kangenan, seminggu kemudian hubungannya dingin kayak martabak sisa semalem. Baruuuu juga abis ngayal babu minta resepsi nikah nanti kayak Raffi-Gigi, eeeh besoknya ditinggalin.

KEMANA MAAASSS JANJI-JANJI MANIS MU SELAMA INIIIIH??

Kalau kata Dokter Nam di drama Discovery of Love mah (btw gue kasih ratingnya 10/10! Tapi sepuluh-sepuluhnya cuma karena akang Eric yang gantengnya kelewatan uuwuwuwu. Oke skip) gini nih:
"The expiration date on the promise is until the love is over."

Betyulll syekalii. Booookk, never trust any forever. Never trust any long-term promises.

Begitu juga sama pertemanan. Kita pasti sering banget ngalamin, dulu waktu masih bareng-bareng kerasa banget sayangnya, perhatiannya, serunya sama temen-temen kita. Tapi begitu kita lulus, pisah, pelan-pelan hubungan itu teruuuus menjauh. Dari yang tadinya komunikasi tiap hari, sampai jadi susah dihubungin. Dari yang tadinya mau main tinggal ayooo jalan, sekarang harus ngatur schedule dari berminggu-minggu sebelumnya. Yang tadinya bisa ketawa ngakak gara-gara hal sepele, sekarang kalau ketemu ngeluhnya masalah kerjaan di kantor.

Begitulah.

Maka saya, dan pasti kita semua sangat amat teramat mengerti apa yang dimaksud temen saya tadi, untuk tidak menaruh harapan pada manusia.

Setelah putus, biasanya kita akan...........
"Pokoknya gue nggak akan mau lagi pacar-pacaran! Aaaaah semua janji-janjinya bullshit lah!"
"Padahal  gue udah sesayang itu sama dia hikksss... Kayaknya gue nggak bisa deh sayang sama orang lain lagi."
Atau yang paling sering diucapin cewek-cewek: "Udahlah capek pacaran, nikah aja deh nikaaaaaahhhh"

Karena itu, temen saya bilang, makanya Rim gue nggak mau kayak gitu. Nanti gue jadi sakit sendiri kaaan?

Sekali lagi, saya setuuuuuju banget!

Rasa sakit yang paling sakit memang kehilangan. Apapunnnnn. Jangankan kehilangan orang yang disayang, kehilangan barang aja bisa nangis bombay. Apalagi kalau yang hilang kayak Lamborghini nya Om Hotman Paris yang mentereng itu. Huhuwww

Tapi, apakah karena kita takut kehilangan, kita jadi nggak mau untuk memperjuangkan?

Biasanya siiih, biasanya yaaaah, manusia nggak ada yang tahan sendirian.

Coba deh perhatiin, temen kamu, atau bahkan diri kita sendiri, yang udah sumpah serapah pokoknya nggak mau punya pacar lagi, eeeeeh beberapa bulan kemudian udah gandeng orang baru. Kita yang sedih-sedih karena temen-temen udah pada pisah dan punya kesibukan masing-masing, eeeeh beberapa lama kemudian udah sibuk sama temen baru. Ya nggak?

We can't stop people from loving, and leaving.
That's the way it goes.

Jadi, kita memang tidak bisa memprediksi masa depan. But actually, our future is just the next page of what we write in this present. Dan memang benar, kita sesungguhnya tidak pernah memiliki apapun untuk selamanya. Tapi semesta mengizinkan takdir kita untuk bersinggungan dengan orang-orang yang telah dipilihnya. Whether they'll stay in our life for a quite long time or just passing by.

Ngomong doang sih emang gampaaang yah. Ahahaha :"D

Yang paling pasti, memang semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Tapi manusia pada hakikatnya nggak bisa hidup sendirian, maka itu kita butuh teman. Mungkin maksud temen saya itu bisa dibenerin jadi gini, kita butuh orang lain, tapi kita juga harus siap jika saatnya kembali sendiri. Namanya juga bersinggungan jalan sama orang, pasti ada waktunya berpisah lagi. Tapi nanti pas kita lanjut jalan, pasti ketemu orang baru lagi. Perubahan memang nggak mudah. It hurts so bad, it hurts so much, but we still have to go through it. For the rest of our life.

So love what you love, be happy as you can, cry when you're hurt, and leave when the time is come.

Jangan hanya karena kita pernah gagal, kita pernah kehilangan, lantas kita selamanya menutup diri dan tidak mau untuk terus berjalan. Justruuu karena kegagalan-kegagalan dan kehilangan-kehilangan tersebut, kita sudah tau rasa sakitnya seperti apa, and we knew, we will always get up again in the end.

Pesan moralnya gini:
Yes, it takes two for tango. But whether you're alone or not, you still can do poco-poco. (Naooon maksa amat hahaha)
Jadi, mau sendiri, berdua, atau rame-rame, kita tetep bisa joget dan berbahagia! 


Sekian dan terima sumbangan,



Kita pasti sering denger ucapan:

"Ngeluh mulu lo kerjaannya"

"Komentar doang bisa nya"

"Emang lo ngerti masalah begituan? Udah deh urusin aja diri lo sendiri dulu"

"Daripada lo sibuk ngomong ini itu, mending lo ngelakuin sesuatu kalo emang nggak suka" ,etc.

dari orang-orang ketika kita mengeluh, berkomentar, atau mengeluarkan pendapat kita akan sesuatu.

I often asked myself, what's so wrong about bragging or even giving any comments about something?
Think of it, that's the problem of society nowadays. Kalau kita komentarin sesuatu, dianggap sok tau. Kita mengeluh, dibilang nggak ada gunanya. So what should we do? Do something, change something, they said.

Disamping, sebenernya itu hak masing-masing orang untuk berpendapat yang udah di atur dalam undang-undang, I think blabbering is fine. Kenapa?

Ada satu kalimat dari dosen pembimbing saya, yang sampai sekarang membekas banget di otak, and I'm surely gotta stick that words for myself forever. Intinya begini:

"Ketika kamu nggak ngerti, nggak suka, bingung, atau ngerasa nggak terima akan sesuatu hal, sebenernya kamu sudah maju satu langkah dalam hidup kamu. Kenapa? That way, you will start thinking, arguing, and then you eventually can change or solve or understand it. Fase paling dasar dalam hidup adalah ketika kamu nggak peduli dan nggak mau tau. If you live like that, you will not go anywhere."

So, to know what you don't know, what you dislike, or what you don't understand is the first step in your milestone in life.

Kamu ngeluh kejebak macet di Sudirman padahal berangkat jam 7. Artinya kamu tau, besok kamu harus berangkat lebih pagi lagi.

Kamu nggak suka sama kondisi politik sekarang. Artinya kamu tau, pileg dan pilpres selanjutnya kamu nggak akan pilih orang-orang itu lagi.

Kamu mungkin nggak ngerti, kenapa di Sudirman bisa macet terus setiap hari, kenapa rapat DPR dan MPR aja pake ribut-ribut terus, but if you have notice that, maka yang orang-orang bilang "do something change something" itu sesungguhnya telah kamu lakuin, kayak contoh yang diatas simpelnya.

What they expected with "do something change something"? Kita nggak perlu jadi politisi kok buat boleh ikut-ikut komentar tentang politik. Kita nggak perlu jadi pemerintah dulu kok buat sok-sokan ngasih solusi ngurangin macet. Justru dengan kita mulai peduli, selanjutnya kita bisa berkontribusi dalam masalah-masalah itu, sesuai sama porsi kita. Dengan nggak milih politisi yang korup dan haus kekuasaan, dengan berangkat lebih pagi biar nggak ikut jadi sumber kemacetan, bahkan hanya dengan ngomentarin sesuatu yang bisa bikin orang lain ikut notice the problem dan meningkat awareness nya juga.

Kerjaannya pengamat politik ngapain sih? Kontribusinya mereka apa? Kayaknya kerjaannya cuma dateng-dateng ngomong di talkshow tv doang. Tapi kamu sadar nggak, dengan mereka wara wiri itu, bikin kita orang awam yang nontonin mereka jadi ikut sadar dan ngerti, setidaknya sedikit, tentang oooh this is what really going on in my country. So what should I do, what could I do.......... seterusnya, influence-influence ini yang akan bikin orang lain ikut paham, peduli, dan akhirnya saling memberikan kontribusi.

Jadiiii.....

Yes, complaining is fine, once in a while yah. Nggak setiap saat ngeluh, marah-marah juga. Nggak cuma ngeluh dan marah-marah juga kerjaannya. Tapi dengan berawal dari ngeluh dan marah-marah itu kita bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan.

That way, we will go to the next step: what we want, what we need to get what we want.




Selamat makan siang! :D


"Life is a series of beginnings, not endings. Just as graduations are not terminations, but commencements." -Bernie Siegel
It's been more than 3 weeks since my graduation day, on September 3rd. Can't say much, but that was one of the proudest moments of my life.

Let these pictures become an eternal memories :))

So here we are. Sometime between four and however many years it took, we're leaving college. 


Where to from here? The answer to that question is as varied as the students who make up this year's graduating class.

Many of us know, or claim to know, exactly the next step to take.
Whether that step is an internship, a full-time job, or even a backpacking trip around the country.

Others, like me, will tell you, we have no idea.

The big thing about college is learning about ourselves, and many of us will leave our majors with some vague idea of the job we'd like to get, or business we'd like to start.
But nothing more.


Whatever we decide, most of us will agree that this place was a perfect place to foster our minds and bodies in this critical learning phase.
Accommodating to our sometimes silly, sometimes rowdy behavior.


I'm a totally different person than I was coming in as a freshman four years ago,
I hope I'm also a better one.

I've learned so much about so much - my field, my interests, my self, and so on.
 I feel like, were I to go back in time, my younger self wouldn't even recognize me.

I can only hope, this passion for learning carries over when I have to search out the lesson myself, instead of walking to class and taking notes.
I suppose real-life experience will teach all of us a lot either way.

The biggest thing, we probably learned is, that we only get one trip around this rock, so we might as well enjoy it.

So, to everyone who touched our lives, we say thank you.

To parents who stood by us no matter what.


To teachers who tried to instill in us a passion for learning.

To administrators who wanted to make our college experiences as amazing as possible.

To advisors who helped us decide what path to take.

To friends who were always there for parties, study sessions, and everything in between.

And to all those others we depend on.

Without you, without each other, there would be no purpose to being here, no way to advance.

Thank you, for all the loving, kind people I've met during my time here.


Now, take our tassels, flip them, and toss those hats in the air.

Why? Because we did it!

It's certainly a huge milestone.
 We will always remember this day, clearly, for the rest of our lives.
 

"So now go. Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition." - Steve Jobs

This is the first day of life-time real lessons.


Ps: Those mesmerizing graduation speech is from gradspeeches.com




Saya cuma bisa ketawa-ketawa geli dan kasihan ngelihat Tasya semalem dijutekin mamah gara-gara baru sampe rumah lewat jam setengah 11. Adek saya kelas 11 SMA, baru pulang dari makrab sekaligus reuni yang diadain di rumah temennya.

Semenjak perjalanan pulang ketika saya jemput, Tasya udah bawel banget nanya-nanya ke saya, "Kakak dulu waktu kamu SMA paling malem pulang jam berapa? Mamah marah ya Kak? Gimana dooong?" yang saya jawab dengan ketawa sambil nakut-nakutin.

Mamaaaaaaahhh! :))))

Mamah saya seorang ibu rumah tangga, yang hampir 21 tahun hidupnya Ia habiskan untuk mengurus keluarga, suami, dan anak-anaknya. Rasanya, nggak ada anak yang nggak akan membanggakan ibunya dan bilang kalau ibu kita masing-masing adalah best mom in the world. For me, yeeeessss my mom is beyond the world itself! To called that most golden-hearted, loving, caring, and understanding mother as mine is the best gift I couldn't trade with anything.

Saya deket luar biasa sama Mamah, bener-bener kayak temen sendiri. Pokoknya saya maunya apa, saya cerita apa, saya ngeluh apa, Mamah pasti ngerti. Mamah saya sama sekali nggak galak, apalagi suka marah-marah. Nggaaaak sama sekali. Tapi satu, mamah saya sangat, amat, teramat protektif.

Dari saya dan Tasya kecil, kita dimanjain banget sama Mamah. Semua-semua Mamah yang ngurusin. Sampe kita nggak bisa dan emang nggak pernah jauh dari Mamah. Waktu saya TK, walaupun Mamah saya lagi hamil Tasya, Mamah masih tetep nyetir nganterin saya sekolah, plus nungguin sampe saya pulang. Begitu juga pas Tasya lahir, lalu saya masuk SD, Mamah saya tetep nungguin saya sekolah setiap hari sambil ngebawa Tasya yang masih cimit. Mamah saya ya, sampe beli kursi buat disekolah saya (ini beneran beli kursi di tukang furniture yah bukan "beli kursi" nyogok hahaha). Jadi Mamah ini kerjaannya nongkrong di sekolah saya sama Ibu-Ibu gaul lainnya. Sambil nungguin anak sekolah, mereka kongkow-kongkow, bahkan sampe bikin arisan segala. Hahahaha. Saking eksisnya, bahkan Mamah saya lebih terkenal dibandingin saya. Dikalangan guru, tukang jajanan, ibu kantin, bahkan sampe punya mamang parkir dan lahan parkir langganan.

Orang tua saya termasuk strik banget. Kalau Ayah strik masalah pendidikan, kalau Mamah strik dalam segala hal kecuali pendidikan. Hahaha. Jadwal saya, dari mulai pagi sampe malem diatur sama Mamah. Teratuuuuurrrr banget. Bangun, siap-siap sekolah (saya selalu disuapin sarapan sampe saya SMP. Hahaha :"), lanjut les aritmatika, renang, pelajaran, ekskul. Setiap sore jam 5, jadwal saya minum susu dan makan kentang. Sholat magrib dan isya berjamaah, dan jam 9 teng, saya udah harus tidur. Saya baru ngerasain dikasih uang jajan itu mulai kelas 5 SD. Sebelumnya? Nggak pernah jajan, selalu dipesenin katering sama temennya Mamah.

Protektifnya Mamah dalam segala hal ini teruuuuuusss berlanjut sampai saya masuk SMP. Karena Mamah sekarang sibuk jadi ibu gaul di SD nya Tasya, akhirnya saya "bebas" dari pengawalan Mamah dan mulai pake anter-jemput. Lalu saya mulai kenal "dunia luar". Saya pertama kali ngerasain naik bis metromini! Wuih itu rasanya bangga dan seru banget. Hahahaha. Mulai nggak bilang-bilang Mamah main kesana kesini, bahkan nyampe nyobain naik Busway segala. Tapi kehidupan saya ya cuma sebatas itu. Main sama temen satu kelas aksel. Rutinitas belajar yang setiap hari sampe sore, bahkan kadang hari libur masih masuk pun bikin saya ya hidupnya gitu-gitu aja.

Sampai akhirnya saya masuk SMA. 

Saya kira, jadi anak SMA itu berarti udah gede. Seneng dan soooookkk banget rasanya waktu itu. Tapi pas hari pra-MOS, saya inget banget itu hari Sabtu dimana anak-anak baru masuk ke sekolah buat dijelasin tata cara MOS, saya dateng dianterin Mamah, Ayah, dan Tasya yang ikut masuk ke kelas buat nyariin saya tempat duduk, plus temen barunya. Udah gitu, pas acara udah dimulai, mereka bertiga NUNGGUIN DI DEPAN KELAS SAMBIL NGELIATIN SAYA DARI KACA. Tuhan............

Itu semua belum selesai. Selama MOS, Mamah saya tetep setia nungguin saya disekolah. Saya inget banget, dulu itu kan sering disuruh bawa makanan-makanan aneh ya, nah saya disuruh bawa sayur gaul (baca: sayur lo-deh. Iye. Garing banget emang). Malem sebelumnya saya minta bikinin ke Mamah, okeee kata Mamah. Pagi-paginya, Mamah udah nyiapin makanannya di..... RANTANG. 3 TINGKAT. WARNA IJO. BENTUKNYA KODOK. Itu saya bener-bener maluuuuuuuu banget.......... Dan bener aja, pas dikelas saya diketawain sama kakak OSIS, dibilang kayak anak TK..... :'''))))

Oke jadi panjang banget. Skip. Skip. Skip.

Lalu saya mulai naksir-naksiran sama cowok. Berhubung waktu itu saya masih tinggal di Blok A, yang tinggal ngesot dari sekolah, bikin rumah saya jadi tempat ngumpul temen-temen. Kelas 1, saya punya temen sekelas yang ganteeeeeeng banget (ini kalo ada temen SMA yang baca, jangan bilang ke orangnya yah HAHA) sekaligus gebetan saya. Waktu dia kerumah, komentar Mamah saya, "wuiiiih ganteng banget Kaaaaakk! Cocok...... dijadiin temen." Jedyarrrr. Lalu saya sadar, saya nggak dibolehin pacaran sama Mamah. Sampe lulus SMA pun, saya masih nggak boleh punya pacar. Jangankan punya pacar, main malem aja beuuuuhhhh manalah boleh! Hahahaha. Saya, hampir nggak pernah malem mingguan. :"))))


Begitu masuk kuliah di IPB dan harus pisah tinggal sama Mamah.... 

Beraaaaattt banget rasanya. Bukan cuma di saya, tapi juga di Mamah. Bahkan waktu awal-awal, Mamah yang lebih sering nangis kangen daripada saya. Hahahaha. Sebelum dikasih izin ngerantau, Mamah udah ngasih ultimatum, Mamah harus tau jadwal kuliah saya, dan setiap hari saya nggak boleh lupa ngabarin Mamah. 4 kali sehari. Dimulai dari jam 7 pagi, jam 12 siang, jam 4 sore, dan jam 8 malem. *serius* Temen-temen kuliah saya udah hafal semua sama jadwal laporan saya. Hahahaha. Mamah juga wajiiiiib punya nomer telfon temen-temen saya. Kalau saya telat ngabarin aja, wuaaaahhh udah riweuh deh temen-temen deket saya di smsin sama si Mamah. Tami, Pepew, Maya, Ria, udah hafal dan khatam banget deh diriweuhin Mamah yang sering nyariin saya. Sampe kadang suka nggak enak sendiri, mereka yang sering ngingetin buat ngabarin Mamah kalau lagi pergi-pergi. :")))
Udah gitu, seminggu sekali saya harus pulang. Kalau rencana nggak pulang (karena sibuk ini itu), Mamah akan ngeluarin jurus andalannya dengan bilang, "oh gituuu, nggak apa-apa kalau Kaka sibuk nggak bisa pulang... Padahal Mamah udah masakkin (insert makanan kesukaan saya) loh buat Kaka...." Digituin, anak mana yang nggak luluh cobaaaa? Hahahahaha

Masalah izin mau pergi-pergi, masih tetep susah juga. Bayangin aja, mau makrab kelas di Puncak, minta izin ke Mamah itu ribeeeeeettttt bangeeeettt. "Sama siapa aja? Berapa lama? Nginep dimana? Ada dosennya? Apaaaaa??? Nggak sama dosen?? Trus yang tanggung jawab nanti siapa??? Trus kesananya naik apaa?? Aman nggak??" Yang sering saya jawab dengan lemes, "Mah, Kaka kan udah kuliah....." Akhirnya, izin didapet setelah ada jaminan dari Tami dan Pepew biasanya. Haaaahhh :'''))
Mamah tuh gitu. Mamah bakal ngebolehin saya kemanapun jam berapapun asal jelas sama siapanya. Kalau bareng temen-temen deket yang Mamah udah kenal dan percaya, amaaaaannn. Hahaha.

Waktu saya mau minta izin buat naik gunung, harus Miro dulu yang nelfon Mamah buat minta izin dan kena semprot karna "jadi provokator" yang bikin saya jadi nakal mau naik-naik gunung. Hahahaha sampe sekarang masih ngerasa bersalah sama Miro :'')) Waktu itu, Mamah ngizinin karna saya bilang Tami juga ikut (padahal Tami cuma ikut nganterin aja). Lalu waktu saya di gunung, Mamah nelfon Tami, dan hp Tami aktif. Akhirnya Tami (yang lagi makan bakso) bilang kalau dia nggak ikut naik gunung. JEDYAAARRRR!!!
Mamah sampe ngehubungin orang-orang buat tau keadaan saya. Pas saya turun, hal yang pertama kali saya lakuin adalah nelfon Mamah. Dan reaksi Mamah adalah...... Nangis. Sambil marah-marah di telfon ngomong apaan saya waktu itu sampe nggak bisa nangkep lagi :''))) Waaah itu marahnya luar biasa deh, saya sampe dijutekin 3 hari setelahnya, dan dibilang kalo masih mau naik gunung lagi, nggak usah jadi anak Mamah. </3


Hahahaha. Kalau diinget-inget, saya sering ketawa sendiri. Ya ampun Mamahkuuuuu...... :''')))

Walaupun kadang bener-bener sebeeeellll banget sama over-protective nya Mamah, berasa masih kayak anak umur 5 tahun, tapi saya ngerti banget Mamah kayak gitu karna sayang luar biasa sama saya dan Tasya. Masing-masing orangtua punya caranya sendiri nunjukkin perhatian dan cinta nya ke anak-anak mereka, dan begitulah cara Mamah saya.

Saya tau, Mamah kayak gitu bukan karna nggak percaya sama saya atau apa, tapi karna Mamah orangnya panikan. Dan itu nurun ke saya. Jadi kalau saya telat ngabarin, yang ada dipikiran Mamah adalah, jangan-jangan saya kenapa-kenapa. Sakitlah, kecelakaanlah, dapet masalah lah, bahkan sampe sering mikir saya diculik. Hahahaha atuuuh siapa juga Maaah yang mau nyulik! Cantik enggak, kaya enggak, laku enggak, nyusahin iyeeee. Hahaha.

Setiap saya lagi sebel sama Mamah yang suka over nyuruh-nyuruh ngabarin itu, saya kayak ngeliat refleksi diri saya juga. Iya ya, gue sama banget protektifnya, over-thinkingnya....

Saya sering banget kayak gitu, ke temen-temen, apalagi ke pacar. Misalnya gini, setiap habis pergi sama saya, pasti temen-temen atau pacar saya selalu saya minta buat kabarin saya kalau udah sampe rumah. Nah trus saya ngira-ngira, kalau jarak ke rumahnya itu satu jam, trus udah 2 jam belum ngabarin juga, wuaaaahhh langsung deh muncul pikiran-pikiran serem. Jangan-jangan ketabrak, atau dirampok, atau diperkosa.... Hahaha atuh gimanaaa :(

Rasanya nggak tenaaaaaang banget kalau belum dapet kabar. Ini di hati dag dig dugggg. Trus saya sering mikir, ini yang dirasain Mamah kalau saya lupa atau bahkan males buat ngabarin....

Makanya, sekarang saya ngerti banget sama semua sikap Mamah, dan sama sekali nggak keberatan lagi. Hahaha. Kalau Tasya masih sering banget marah dan ngelawan Mamah yang nganggep dia  kayak masih anak umur 5 tahun, apa-apa dibatesin, dulu saya juga gitu. Hahaha namanya juga remaja :P Sekarang, seiring saya nambah dewasa, saya malah udah jadi kebiasaan juga buat ngabarin Mamah, cerita semuanya sama Mamah, minta pendapat dan nasehat Mamah. Nggak ada yang saya tutup-tutupin. Apapun yang saya lakuin, Mamah pasti tau.

Makin kesini, saya makin sering kangen sama Mamah. Waktu beberapa bulan lalu liburan ke Bali sama temen-temen, saya yang nangis. Saya belum pernah pergi sejauh itu tanpa Mamah. :'''))) Hahahaha. Makanya, saya juga pulang duluan. Rasanya nggak ketemu Mamah lebih dari seminggu itu...... nyakitin. :")

Mamah tau semua cerita saya, semua cerita temen-temen saya. Hahahaha. Jangankan soal cinta-cintaan sendiri, masalah per-pacaran temen-temen pun saya ceritain juga ke Mamah. Hahahaha hampura yah :P Semua ngalir gitu ajaaa pokoknya sama Mamah. Saking deketnya, Mamah selalu tau kalau saya (baru niat) bohong atau nutupin sesuatu. Percuma :P

Dulu, saya sering ngomong dalem hati, "pokoknya kalo gue nanti jadi ibu-ibu, gue nggak akan mau over protective kayak Mamah! Kasian anak gue, dikekang!"

Tapi sekarang, harapan saya berubah jadi, "pokoknya nanti gue mau jadi kayak Mamah. Yang super perhatian sama anak gue. Karena beruntung banget yang jadi anak Mamah, dilimpahi kasih sayang yang begituuuuuu luar biasa!"

:)))


Semoga saya bisa jadi seorang perempuan, anak, istri, dan ibu yang begitu baik seperti Mamah saya. Yang baik hatinya, baik juga ibadahnya. Aamiin. Aamiin. Allahumma aamiin. :)

Saya selalu bilang, sama Mamah, Ayah, temen-temen, dan pacar saya. Cita-cita saya nggaaaaakkk muluk-muluk, saya cuma pengen jadi ibu-ibu gaul di sekolah yang suka kongkow, arisan, dan pengajian kayak Mamah. Hahahahaha :p



Selamat malam minggu!
Seperti biasa, salam dari saya yang sedang (dan selalu) dirumah :p

Newer Posts
Older Posts

Hello, It's Rima!

Hello, It's Rima!
A free-spirited hippy type that often get soaked from dive so deep into her complex thoughts and a lot of big feelings.

Labels

asi vs sufor engagement korean drama life menujurrumah parenthood Rania review film rima's k-drama recap

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Three years later....
  • ►  2020 (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (35)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2015 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2014 (40)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2013 (18)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (31)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)

Find something

Most Popular

  • Apa Cita-Citamu?
  • Everybody's Changing
  • Lumos
  • Do Something, Make Something
  • We Can't Wait Forever
  • Nozomi, A Hope
  • "Kalau nggak enak, kasih kucing aja"

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates