twitter instagram linkedin
  • HOME

"Oh, I think I landed, where there are miracles at work...."

I never thought that I would see a magic, the adventure of a lifetime, like this.
Under a sky full of stars, within' a head full of dreams.





 Thank you, universe.
Sejak kantor pindah ke Pancoran, jarak yang harus gue tempuh setiap harinya melonjak sampai hampir dua kali lipat. Dari yang tadinya udah jauh dan macet, jadi makin super jauh dan super macet. Dengan menempuh jarak kurang lebih 50 km setiap hari untuk perjalanan rumah-kantor dan kantor-rumah, nggak jarang gue di jalanan bisa mengkhayal lima episode gimana rasanya jadi emak-emak sosialita aja.

Puncaknya adalah beberapa hari yang lalu, di mana gue menghabiskan waktu tiga jam, iyah, TIGA JAM dengan motor untuk pulang. Padahal nggak ada si Komo lewat di sepanjang jalan (YHAAA), tapi entah kenapa hari itu, semua jalan dari mulai Antasari yang biasanya cuma merayap-merayap manjah, tiba-tiba macet total nggak bergerak. Gue pun melipir ke jalan Asem yang kecil, ternyata jadi makin kecil karena penuh mobil dan motor. Sampai akhirnya mencoba peruntungan lewat Fatmawati, malah jadi terjebak.

Jadi tiga jam tersebut (bersama bensin motor yang seperti biasa udah di ambang kritis) gue habiskan dengan: kaget - marah-marah - pusying - berusaha tegar - capek - sesek - nangis - berhenti nangis - pasrah - capek lagi - nangis lagi - berhenti nangis lagi - pasrah lagi - dan terus aja looping. Sambil drama ngadu-ngadu ke orang-orang. Ngadu ke mamah. Ngadu ke Kak Kiram. Ngadu ke anak-anak kantor. Ngadu ke media sosial. Ngadu ke Tuhan.

Nggak lupa juga pake bumbu-bumbu, "WHY AM I HEREEEE?", "WHY SHOULD I WENT THROUGH THIS STRUGGLE EVERYDAAAY?", "WHY CAN'T I BE HAPPY AND LIVING AN EASY LIFE?", sampai mikir.... "why human like us is trying too hard to live, if in the end we all will die and won't bring anything from this world?'. Iya, memang sungguh drama.

Keluhan gue tentang jarak dan macetnya dari rumah ke kantor dan kantor ke rumah terjadi setiap hari selama henggg kira-kira dua minggu terakhir. Tapi gue tetep kekeuh untuk menjalani rute yang itu. Karena ngerasa cuma tau jalanan itu, dan nggak berani buat nyari-nyari jalan lain,walaupun banyak yang ngasih tau ini itu, termasuk Ayah yang sampai kesel dan mere-mere, "Kakak tuh kayak mau ke Bogor tapi lewat Bandung tau nggak!"

Sampai akhirnya di suatu Magrib sebelum , gue mengecek maps lalu tertohok karena melihat warna merah di sepanjang jalan yang biasa gue lewati. "Kayaknya gue nggak sanggup deh nih,"kata gue dalamhati. Trus memutuskan untuk nyoba jalan lain. Setelah nanya-nanya ke anak-anak kantor dan berbekal panduan google maps, gue pulang lewat rute baru, Duren Tiga - Pejaten - Warung Buncit - Cilandak. Dan hasilnya.......sungguh luar biasa. Dua hari ini, gue bisa sampai ke rumah cuma dalam waktu satu jam lebih-lebih dikit. Masha Allah! *lalu sujud syukur*

Trus kesenengan. Trus merasa ih bodoh banget kenapa nggak dari awal aja. Hahaha. Ternyata emang itu fungsinya dibikin banyak jalan ya, biar kita bisa milih, biar kita bisa nyoba, biar kita nggak stuck di satu tempat aja. Karena terkadang, zona nyaman yang udah kita punya justru sebenernya nggak lebih baik dari banyak hal di luar sana. Dan karena kita sibuk living in our bubble, jadi nggak berani untuk step out deh.

Kalo jalan yang ini nantinya stuck juga, ya tinggal ngeberaniin diri untuk nyoba jalan lain. Karena banyak jalan untuk pulang, dan banyak cara untuk mencapai rumah. :)

Beberapa hari-bahkan minggu- belakangan ini, pembicaraan-pembicaraan di sekeliling saya lagi dipenuhi sama pembahasan dan diskusi mengenai: kesetaraan, gender, prinsip, pernikahan, hingga hidup. Iyah, sungguh sangat mengherankan, bisa se-berfaedah itu topiknya, hahaha. Yang bikin otak jadi'penuh' sendiri, haha. Kira-kira (sebagian) isinya gini nih:

"Kenapa sih, perempuan kan koar-koar tentang emansipasi, tapi kalau di busway/kereta, maunya diproritasin untuk duduk? Ini terlepas dari lansia atau ibu hamil ya, perempuan biasa aja gitu."

"Kenapa perempuan tuh selalu dianggap/menganggap dirinya lemah, padahal jelas-jelas perempuan justru punya endurance yang lebih daripada laki-laki. Makanya, perempuan sanggup menstruasi, hamil sembilan bulan, melahirkan, sampe menyusui."

"Indonesia masih butuh feminis, tapi feminis yang ngerti permasalahan, dan kebutuhan perempuan yang sebenernya, di ranah bawah, di daerah, orang-orang yang masih kurang pendidikan dan masih terbelakang. Nggak cuma koar-koar pake permasalahan orang kota doang."

"Kenapa cewek kalo manja, kesannya tuh nyusahin cowok banget. Padahal kalo cowok yang manja, cewek biasa aja, malah seneng."

"Apa sih bedanya manja sama nggak mandiri?"

"Menurut lo bener nggak, kalau gimanapun juga, cowok emang kodratnya sebagai pemimpin. Apalagi dalam rumah tangga?"

"Di Indonesia tuh, penghasilan suami ya untuk suami sama istri. Kalo penghasilan istri, buat dirinya sendiri. Tapi gue sama istri gue nggak apa-apa sih, kayak gitu."

"Itu menjunjung tinggi kesetaraan, atau sebenernya si cowok nggak mau/nggak mampu aja punya tanggung jawab yang lebih? Jadinya berlindung di balik 'kesetaraan'."

"Kalo cowoknya punya penghasilan yang lebih rendah dari si ceweknya, apa cowok masih tetep harus menafkahi si cewek?"

"Tapi ketika menikah kan, cowok mengambil alih seluruh tanggung jawab atas si cewek, yang tadinya jadi tanggung jawab orangtua si cewek. Termasuk soal menafkahi, lahir batin."

"Waktu gue mau nikah, calon suami gue minta gue untuk belajar, seenggaknya baca-baca soal hadist tentang pernikahan, termasuk juga soal tanggung jawab dan kewajiban istri-suami."

"Gue tetep butuh nahkoda buat kapal gue nanti sih. Gue jadi co-nahkodanya."

"Kalo udah nikah, prinsip tentang finansial itu penting banget. Nggak bisa boong, kita nggak bisa hidup cuma pake cinta."

"Menurut lo, nikah tuh butuh nggak sih?"

"Gue sih butuh nikah, biar kalo nanti udah tua, ada yang ngurusin."

"Kenapa sih pernikahan harus dicatet-catet sama pemerintah?"

"Menurut gue nikah dicatet-catet tuh nggak perlu, kalo sama-sama cinta dan udah berkomitmen berdua, yaudah jalanin aja!"

"Pencatatan pernikahan itu kayak semacam 'security' gitu nggak sih?"

"Prinsip gue sebagai laki-laki sih, selama gue bisa, gue akan lakuin buat perempuan gue."

"Di atas prinsip tuh masih ada yang lebih tinggi lagi ya, yaitu kepercayaan, iman."

"Yang lebih penting tuh kesetaraan untuk mendapatkan hak nggak sih, ketimbang menyetarakan kewajiban?"

"Gue bukan feminis, gue lebih suka nyebut diri gue humanis."

"Menurut gue, di atas kesetaraan, ada yang lebih penting, yaitu keadilan. Setara nggak sama dengan adil, dan adil belum tentu setara."

"Gimana caranya menafsirkan keadilan yang bener-bener adil?"

Daaaaan..... kalau dilanjutin, akan jadi sangat panjang serta bikin makin pusing, hahahaha. Tapi seru banget ngedengerin pendapat-pendapat yang beda-beda itu. Trus, saya akhirnya cuma bisa menyimpulkan, kalau dari semua-mua yang udah diperdebatkan itu, hasilnya adalah: nggak ada kesimpulannya. :)

Iya, menurut saya, nggak ada yang benar dan yang salah. Cara berpikir dan memandang kehidupan masing-masing orang tuh bukan ilmu pasti yang bisa dikroscek bener atau nggak jawabannya, nggak kayak fisika atau kalkulus lanjut (DUH!). Menarik banget dengerin cerita adik saya tentang materi kuliahnya yang membahas gender, lalu sekelas saling melempar pendapat pro dan kontra atas sebuah situasi, yang lalu berakhir juga tanpa kesimpulan yang mutlak. Bikin saya makin pengen belajar banyak tentang sosiologi.

Terlepas dari itu, yang saya juga sadari adalah pada akhirnya, isi otak dan hati manusia emang beda-beda kok. Pun dengan perihal keyakinan, kepercayaan, serta prinsip yang dipegang. And in the end, it's okay to be different. It's okay, to agree to disagree.

Selama masing-masing nggak saling merugikan, dan meyakiti satu sama lain. Selama masing-masing nggak saling mengganggu, dan memaksakan kehendak satu sama lain. Selama masing-masing nggak memaksakan kesetaraan dalam sebuah pendapat. Saya kira, semua kembali kepada hak masing-masing manusia untuk berpendapat berkeyakinan, bahkan beragama, serta kewajibannya untuk mempertanggung jawabkan pilihannya tersebut. Lakum diinukum wa liya diin. (QS: 109; 6)

Dan kita, hanya perlu mencari serta menemukan orang yang memiliki keyakinan, kepercayaan, prinsip, serta visi dan misi yang sama dengan kita, dalam menjalani hidup. Atau, yang dengan bersama dia, kita bisa mencapai satu titik temu bernama kompromi dan komitmen, untuk tetap bisa menyelaraskan buah pikiran dan hati masing-masingnya. Itu semua hanya bisa terjadi, kalau saling terbuka dan mau membicarakannya.

Bukannya itu juga salah satu konsep dari berpasangan, ya nggak sih? Untuk bisa saling mengenal satu sama lain. Untuk bisa bersatu, bukan harus menyatu. Untuk bisa menggerakan sebuah gerobak dengan dua roda yang -nggak perlu berdempetan- tapi tetap bergerak ke arah yang sama.



Tapi kalau nggak bisa, ya nggak perlu dipaksakan. Mungkin, bukan dia orangnya. :)



Will be so much perfect and 'awww-errr' if he said it in person instead of chat. Kalau beneran ada yang macem ginih. Uwuwuwuhh banget :')
Bali, December 2016

As I grow older, I thought there are so many more important things to be thinking about, things to be done, becoming what we want to become, and all those never-ending life's matters other than love. But at the same time, I realize that human could never give up on love too. In the end, it's always the thing they -we are- all searching for, and maybe, need of. Even if they're just a teenager, twenty-somethings, or real adults.

Everyone has different yet same question about love. And these days, it seems like nearly everyone (or at least, everyone I know) is in such a hurry for finding, or settling their "true love".

I find this 'urge' to have 'the one' is somehow..... dangerous (?) that we could fell into the trap called phantasm. Just because we don't want to be alone, we told ourself that we love 'her/him'.

We think... It's okay, even we spent the dates staring each other's phones, instead of looking into each other's eyes.

We think... It's okay, even we spent hours tried to understand their stories with mind's blank and vice versa, instead of actually talking and sharing and exchanging many random things to serious matters we could repeated all over again with them without ever feels bored.

We think... It's okay, even we spent times together with them with this awkward smile, instead of laughing your ass together over silly jokes only both of you could understand.

We think... It's okay, even we spent days without having a proper communications than 'how's ur work?', 'how are u?', etc, instead of really care about each other conditions immensely.

We think... It's okay, even we spent months, years, having this 'emotional repression' and always trying to look okay, trying to be strong, trying to be happy with them, instead of crying our heart out and tell them what we need and make them a shoulder to cry on.

NO.

It is NOT okay.

We don't have to be -or feel- content with that, just because our illusion that he/she is the one, we can't lose them, we love them, we can't be alone, anymore.

Everyone deserves the right person for them.

A person who makes our heart beat faster by simply saying our name. A person who makes a big smile on our face whenever we look at them. A person who will twirl the strands of our hair around their fingers when we feel tired. A person who can understand our mixed feelings and emotions, and hold our hands to make us know, they are there for us. A person.... I don't know. Everything is different for everyone.

But I know now, what I need is... a person whom I can completely trust, a person I could lean on, a reliable person that want to protect me and all my feelings. With him, I can bare all my weakness, without having any worries. With him, I have the same vision and mission to live the life. With him, I'm sure he could be my -not only a partner, but a leader- until the afterlife.

And for meet that one who speaks for our souls, maybe we don't have to be in hurry. Maybe?


I wasn't ever really like my month actually. I never did.

November itu...... hujan lagi deras-derasnya. Musim liburan udah lewat. Jarang ada tanggal merah. Nggak ada hari besar atau perayaan yang seru. Pokoknya, kayak bulan yang pengen dicepetin biar buruan ketemu sama Desember, trus tahun baru.

Selama dua puluh-sekian tahun ngelewatin hari lahir di bulan November, lebih dari setengahnya pasti hujan. Dan itu, bikin gue sebel. Acara ultah yang berantakan, surprise yang gagal. Dua tahun lalu, gue ngurung diri seharian, dan me-non aktifkan hape gue sepanjang hari. Ceritanya mau kontemplasi, hahaha. Muram abis. Dan tahun kemarin yang paling parah, gue pulang kantor hujan-hujanan, lalu disambut macet nggak bergerak di jalan Fatmawati, dan nyampe rumah dalam waktu 3,5 jam. Dan begitu gue sampe rumah, sodara-sodara gue yang tadinya kumpul udah pada pulang, dan nyokap gue udah tidur.

Nah tahun ini, gue merencanakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Bahwa gue pengen melewati hari tersebut di tempat yang bener-bener asing, yang belum pernah gue kunjungi. Sebenernya kedok aja sih, biar bisa liburan, hahaha. Dan highlightnya, gue pengen coba liburan sendirian. Ala-ala solo traveler getoooh. Biar kontemplasinya lebih maksimal. Yha.

Kepergian gue kemarin kayak ke-impulsif-an yang direncanakan. Ide dan dorongan itu dateng gitu aja, lalu gue merencanakannya dengan memilih tempat mana yang mau gue datengin. Pilihan gue jatuh ke Belitung. Kenapa? Nggak ada alasan yang khusus, sih, sebenernya. Tiba-tiba aja kepikiran Belitung, kayak ada lampu-lampu nyala gitu di otak, "a-ha! Ke Belitung ah!".

Yaudah, trus gitu. Sok-sokan mau backpacking, trus browsing-browsing ke blog-blog banyak orang. Dan dari situ mesen tiket penginapan. Beli tiket pesawat. Done. Lainnya, gue nggak merencanakan apapun. Nggak bikin itinerary, nggak punya destinasi yang harus gue kunjungi, apapun. Yang gue persiapkan cuma: harus nyewa motor untuk keliling sendirian, karena di sana nggak ada kendaraan umum sama sekali.

Masalah selanjutnya adalah izin. Dengan orang tua gue yang begitu protektifnya (yang anaknya jam 9 malem belum pulang aja udah di-rong-rong), gue bingung banget mesti gimana minta izinnya. Bilang traveling sendirian sama aja cari mati. Udah gitu di hari ultah pula. Setelah maksa minta izin berbekal "udah beli tiket segala macem dan nggak bisa di-refund", serta kelihaian dalam bersilat lidah dan mencari celah, akhirnya nyokap dengan berat hati ngizinin.

Laluuuu, karena ini awalnya bukan mau nyeritain tentang liburan, jadi kita skip aja yah otak dan tangan, kenapa kamu malah nulis ngalor ngidul sih zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz baiklah. Jadi, apa yang gue dapatkan dari liburan berkedok kontemplasi di pulau seberang tersebut? Pleasant surprises. :)

Banyak bangeeeeetttt kejutan-kejutan yang terjadi, and it's so magical ♥♥♥ And I got the very BEST surprise I've ever got on my whole existence. Sampe speechless nggak tau harus gimana, ngomong apa, berbuat apa. Cuma bisa mikir berulang kali, ini beneran nggak sih? :))

Dan setelah itu, Tuhan masih ngasih kejutan-kejutan lain untuk gue, sepanjang bulan. Membuat gue nggak boleh lupa untuk terus bersyukur, dan membuang jauh-jauh pikiran kalau gue kena jinx dan selalu ngerasa muram di bulan November.  Apakah kejutannya selalu menyenangkan? Jelas nggak, tapi menentramkan. Mengajarkan gue untuk terus dan terus melapangkan hati, membuka pikiran lebih luas lagi dan melihat segala sesuatu as one big picture, sekaligus mengingatkan, kalau susah senang dalam hidup emang harus gue hadapi, dan hidup adalah perjalanan. Yang akan gue tinggalin juga pada akhirnya, entah kapan. Dan masih ada perjalanan lain menanti gue, setelah kehidupan yang satu ini. Untuk itu, gue harus bersiap-siap, dan menabung.

Yang gue cari juga dari perjalanan sendiri gue kemarin, adalah bahwa gue pengen membiasakan kesendirian. Bahwa gue harus bisa bergantung kepada diri gue sendiri, bukan ke orang lain, siapapun itu, Bahwa gue harus bisa berteman dengan baik dengan diri gue sendiri, dan mengenal diri gue lebih baik dari siapapun. Bahwa gue harus percaya, kalau kesendirian itu baik adanya.

Hasilnya? Ternyata pergi sendirian emang menyenangkan Gue bisa bengong-bengong sepuasnya, beraniin diri pergi ke tempat-tempat yang asing, ketemu orang-orang baru dan berkenalan dengan manusia-manusia lain, bertukar cerita, anything, kayak apa yang udah sering dipaparkan oleh para solo traveler. It was a rare yet zuper duper exciting and precious experience! Dan mudah-mudahan, ini goals sih, bukan menjadi pengalaman solo traveling gue yang terakhir. Pengen lagi lagi dan lagi!

But at the end, when I was all alone and suddenly I saw him in front of my door, I know I'm finally home.


and I don't want to be alone anymore. :)








Ps: Jadi, apakah tahun ini ulang tahunnya bebas dari hujan? Ooooo tentu tidak. Di Belitung, 13 November kemarin adalah salah satu hujan yang nyebabin banjir terparah. Dan hujannya nggak berhenti dari jam 3 pagi sampai jam 3 sore.

Ps 2: Padahal hari besoknya langsung cerah banget.

Ps 3: Kayaknya emang udah nasib, ulang tahun selalu hujan. Di manapun. Hahahaha.

Hampir dua bulan lalu, gue memutuskan untuk meng-uninstall Path di hape gue. Aplikasi yang selama beberapa tahun terakhir, jadi salah satu aplikasi yang paling sering gue buka tiap kali gue memegang hape. Yang ikonnya sampe gue taro di home screen, biar gampang nyarinya. Yang tiap hari pasti gue scroll, walaupun nggak lagi meng-update apapun. Yang bikin gue tau segala jenis update-an temen-temen gue, mereka lagi ngapain, mereka lagi di mana, mereka habis nonton film apa, mereka lagi dengerin lagu apa. Yang bikin gue pun *serasa* nggak mau kalah untuk ikutan meng-update segala macem hal dalam hidup gue, dari mulai yang nggak penting sampai yang penting tapi sebenernya nggak perlu juga orang tau.

Sampai akhirnya, suatu ketika gue mikir.... "what the hell I'm doing". Dan gue ngerasa capek dan muak dan 'penuh' sama kehidupan di Path itu. Apa ya, ngerasa terlalu bising dan nggak memberikan gue ruang untuk bernapas dan akhirnya gue memutuskan untuk keluar. Gue pun meng-uninstall aplikasi tersebut dengan pesimisme yang sangat tinggi (HAHAHA), dan yakin kalau gue nggak bakalan tahan lama-lama nggak main Path. Tapi ternyata, dua bulan kemudian....

Hey, it turns out I actually okay and nothing is feel missing. Emang sih gue sangat ketinggalan berita dan gosip-gosip apapun itu. Sampai waktu gue ketemuan sama temen-temen kuliah gue dan mereka ngomongin suatu hal yang gue nggak ngerti, dan salah seorang temen gue bilang, " Itu ada di Path tauuuuu, lo ngilang sih!". And I'm like..... Errrr....

Whaaaa, ternyata segitunya ya sekarang orang dianggap hilang ketika nggak aktif di media sosial. Padahal gue cuma berhenti mainan satu platform loh. Dan gara-gara nggak nge-Path juga, gue malah nyari pelarian ke media sosial lainnya, Instagram. Satu tahun yang lalu, gue nggak sebegininya sama IG. Sekarang, nggak ada seharipun gue nggak buka IG. Dari emang update foto setelah mikir lama, milih-milih yang paling instagram-able, nungguin prime time, deg-degan bakalan dapet likes banyak nggak, trus jadi ngelihat-lihat feeds orang, dari temen sampai yang nggak gue kenal. Trus berakhir dengan penyesalan (yang selalu terjadi, tapi juga selalu gue ulangi).

Gue sering bilang ke diri gue sendiri, "Rim plis deh, get a life kali! Ngapain sih mainan medsos mulu, ngeliatin hidup orang mulu," tapi nyatanya, sekarang justru orang-orang merasa living their life kalau udah udpate sesuatu di media sosial. Ya nggak sih? Coba aja perhatiin postingan lo atau temen-temen lo atau orang-orang yang lo follow. Dari mulai bangun tidur trus selfie berhestek #IWokeUpLikeThis, fotoin makanan sebelum dimakan sampe keburu dingin, fotoin dirinya lagi kerja, lagi sekolah, lagi di jalan, lagi pacaran biar jadi #RelationshipGoals, lagi traveling, lagi ngantuk, lagi kebelet boker, lagi napas. HHHH gue jadi kayak nyinyir.

No, poin gue bukan tentang apa yang di-update yah, nggak ada masalah dan nggak ada salahnya dengan itu semua, pun gue melakukannya. Yang mau gue bold adalah: kita justru merasa hidup ketika hidup kita terekspos di sana. Kalau lagi ke mana, ngapain, dll trus belum update, pasti kerasa ada yang kurang. Ngerasa nggak lengkap. Ngerasa gatel pengen nge-share. Ngerasa harus punya sesuatu yang bagus buat dilihat orang-orang. Ngerasa minder sama kehidupan orang lain yang kayaknya indah dan keren dan enak banget. Ngerasa ngiri karena feed sebelah estetik abis, nggak kayak kita yang likes nya cuma belasan aja. Ngerasa kurang mulu. Ngerasa nggak puas. Akhirnya mumet sendiri.

Akhirnya apapun yang di-update, kita jadi mikir bukan buat kita sendiri, tapi buat dilihat orang. Buat diperhatiin. And I find that (this is to myself for doing that too), it's so pathetic.

Trus beberapa hari ini, I'm at the point of seriously considering deleting all of my social media accounts. Pengeeeen, tapi udah yakin duluan kalau gue nggak akan bisa. Dan nggak yakin juga apakah emang perlu. HAHAHA, labil abis. Kata seseorang, "dasar life quarter crisis!". Wqqq. Gue nggak ngerti yaa is it normal or not, mumetin hal yang (mungkin) nggak penting kayak gini. Huaaa. Trus jadi penasaran, dulu kok kita bisa ya pas belum ada gini-ginian? Dulu kita ngapain aja ya kalau lagi bosen?

Mungkin emang nggak bisa berhenti main media sosial, dan mungkin nggak perlu berhenti juga. Tapi mungkin mau coba ngebatasin ah, mulai sekarang. Dan ngejadiin aplikasi-aplikasi itu sebagai hiburan aja, bukan suatu kebutuhan. Pun kalaupun justru ngerasa makin sepi dan ngerasa jadi 'outcast' or being 'left out' dari kehidupan dunia maya, I'll make sure that hey, I'm still living my real-life here, the messy days, the ups and downs, the dull, and the unphotogenic moments that could ruin your feeds. And whether you know or not, you care or not, either way it's fine. :)



Ps. Gue punya satu temen yang nggak pernah kelihatan sama sekali di internet. Nggak punya Path, nggak punya IG, nggak mainan Twitter lagi, nggak ngecek Fesbuk, bahkan nggak pernah pasang DP di BBM/Line, nggak pernah nongol di group chat, tapi pas ketemu, ternyata dia masih baik-baik aja. Dan hey, malah jadi kangen-kangenan beneran, banyak cerita, dan pengen tau banget selama ini gimana kabarnya! :D

Ps 2. And she's particularly one of the persons that make me want to quit this internet life. :)

Ps 3. KAYAKNYA BENERAN LAGI FASE LABIL BANGET DEEEH HAHAHA

Ps 4. I'm not even 23 can you believe that???!! yet I feel so old and tired of these thinking and feeling. Oh my old soul :'''))


Suatu waktu, saya iseng membaca ulang semua tulisan di blog saya, dari awal sampai tulisan yang terakhir saya tulis. Hasilnya: saya senyum-senyum, kening saya menyerngit, saya ngangguk-ngangguk, berusaha mengingat-ingat, bernostalgia, muncul perasaan,,,, apa ya, kata lain dari rindu? bukan yang cuma sekadar rindu gitu, lebih ke... longing feeling kali yah. rasa hampa. Dan yang paling utama sih saya jadi sering ngomong ke diri saya sendiri, "wtf I wrote!", "idiiiiihhhh", "gue ngapain nulis beginian sih???", dan berakhir dengan puluhan postingan di blog ini yang saya hapus dengan penuh kekejaman dan rasa malu warbiasah, serta akun Tumblr yang saya putuskan untuk dihilangkan sekalian karena nggak sanggup menghapus semua postingan super galau yang ada di sana. Hahahahaha.

Tapi di balik "hahahaha"-nya, setelah itu ada rasa yang aneh yang tertinggal.

Dulu, gue pernah kayak gitu.
Dulu, gue pernah ngerasain itu.
Dulu, gue pernah ngalamin itu.
Dulu, gue pernah pergi ke situ.
Dulu, gue pernah bahagia kayak gitu.
Dulu, gue pernah sesedih itu.
Dulu, gue pernah ngedapetin itu.
Dulu, gue pernah kehilangan itu.
Dulu, gue pernah mencintai seperti itu.

Perasaan-perasaan nggak terdefinisikan yang tiba-tiba aja memenuhi diri saya, sampai kadang jadi sesak.

Rasa yang sama setiap kali saya blogwalking. Oh ya, saya suka bangeeet blogwalking. Biasanya mampir ke blog temen-temen saya, orang-orang yang saya kenal atau penulis favorit saya, dan sering kali tuh saya tiba-tiba sampai ke blog random yang saya sama sekali nggak tahu sebelumnya. Entah. :/

Daaaaaan..... Selalu banyak rasa yang mampir ke saya setelah itu. And it's often very overwhelming. Kayak habis mengintip buku harian orang. Mengetahui kehidupan mereka, mengetahui rahasia-rahasia yang mungkin nggak bisa diungkapin melalui lisan, mengetahui cerita yang kadang menyenangkan, tapi nggak jarang pula bikin saya ikut ngerasain kesedihannya, kehilangannya, keputus asaannya, kegundahannya, mengetahui pemikiran-pemikiran setiap orang yang unik dan beda-beda tapi bikin saya ngangguk-ngangguk sendiri, dan satu yang kadang paling mengusik saya..... ikut mengetahui masa lalu mereka.

Lucu ya, gimana dari cuma "mengintip" tulisan seseorang aja, kita jadi bisa ikut merasakan perasaan yang lagi mereka rasain ketika menulis tulisan itu. Gimana kita jadi ikut membayangkan menjadi mereka, dan mengalami apa yang mereka ceritain itu. Gimana kita jadi ngerasa sedikit "mengenal", atau "memahami" mereka, dari apa yang ditulis. Gimana kita merasa ikut tergugah, tertular bahagia, ikutan sedih, merasa cemburu, juga... jatuh cinta.

Trus abis itu jadi sendu.

Jadi hampa.

Sekaligus sesak.

Overwhelming feelings.

Yang nggak bisa didefinisiin.

Pun apa sebabnya dan kenapa bisa begitu.





Can you?




Ps. current favorite songs yang makin cocok nemenin waktu bersendu-sendu saya: all self-writen from Nicole Zefanya. This girl is so talented. You should give a try here:


Pertama kali gue nemuin pemikiran tentang Peran ini adalah dari dua orang. Pertama, Mas Anies Baswedan. Kedua, Mas Rene Suhardono. Beberapa tahun yang lalu, gue pernah bersinggungan langsung dengan Mas Anies ketika bergabung bersama Turun Tangan. Ketika itu, kami -para relawannya- bersama-sama dengan Beliau mempersiapkan pencalonannya menjadi Capres dalam Konvensi Partai Demokrat. Dan pada masa-masa itu, pertemuan dengan Mas Anies nggak cuma melulu ngobrolin soal politik aja, tapi juga banyak gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran (which is the reason kenapa gue respek banget sama Beliau).

Sebelum akhirnya menjabat jadi Mendikbud, banyak banget yang menentang Mas Anies untuk terjun ke politik. Namanya bersih, cukup cemerlang sebagai rektor termuda di Indonesia, masuk jadi salah satu cendekiawan berpengaruh di dunia, sekaligus inisiator banyak banget gerakan-gerakan pendidikan. "Buat apasih Pak Anies masuk politik? Politik itu kotor! Kenapa nggak tetep jadi rektor aja dan kalopun mau ngebenahin pendidikan Indonesia, kan bisa dari luar pemerintahan. Kayak yang selama ini udah dilakuin."

Waktu itu, Mas Anies ngejawab intinya bahwa dengan peran yang lebih besar, akan ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Perannya mungkin akan berubah, dari rektor ke panggung politik. Tapi Beliau tetep punya misi, punya genre yang sama yang akan terus diusung, yaitu: membenahi pendidikan.

Kedua, satu tahun yang lalu gue pernah mewawancara Rene Suhardono secara langsung. Mas Rene dikenal sebagai penulis buku, public speaker, sampe founder beberapa organisasi social empowerment. Gue nanya, "Mas Rene sebenernya profesinya tuh apasih?" dan jawaban dia adalah: "Profesi buat saya tuh kayak peran. Jadi kalo ditanya profesi saya sebagai apa, sama kayak nanya ke Brad Pitt, 'peran lo sebagai apa?' Dia akan jawab, 'tergantung filmnya'. Tapi yang esensial itu karir. Karir tuh segala sesuatu yang kita jalanin untuk mencapai misi kita. Nah peran atau profesi apapun akan saya jalani untuk mencapai misi."

Peran.

Gue jadi inget lagunya Nicky Astria juga, "Dunia ini panggung sandiwara. Cerita yang mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan. Yang harus kita mainkan."

Sebelumnya gue nggak pernah merhatiin kalo ternyata liriknya se-uuuhh itu ya.

He-euh. Dalam hidup, kayaknya kita akan selalu ganti-ganti peran deh. Di rumah, kita berperan sebagai anak. Di sekolah, kita berperan sebagai murid. Di kantor, kita berperan sebagai pegawai. Tapi peran kita nggak cuma stagnan gitu aja, ada kalanya, dan ada waktunya, kita pasti harus ganti peran.

Di rumah, kita nantinya ganti peran jadi istri/suami, bahkan ibu/bapak, bahkan nenek/kakek. Di sekolah, kita mungkin bisa berganti peran jadi guru. Di kantor, mungkin kita akan berperan sebagai bos. Di lingkungan pertemanan yang beda, kita mungkin juga bisa punya beberapa peran yang beda. Di geng A, kita jadi si temen yang suka ngatur-ngatur. Di geng B, kita jadi pendengar dan tempat curhat yang baik. Di geng C, kita jadi si tukang lawak. Dll. Dsb. Etc.

Suka nggak suka, mau nggak mau, se-idealis-idealisnya kita, kita pasti harus berubah kok. Beradaptasi. Demi bisa bertahan. Udah nature dan fitrahnya makhluk hidup nggak sih, untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan buat survive? Dari dulu sih gue selalu diajarin gitu, di pelajaran Biologi. Bukan yang paling kuat yang bertahan, tapi yang paling adaptable.

Seringkali, kita susah atau bahkan menolak buat berubah dan menyesuaikan diri demi beradaptasi. Gue ya gue, gue gini orangnya. Iya. Kita punya prinsip, karena kita butuh pengakuan dan pembuktian eksistensi diri, nggak kayak ikan mati yang ngapung-ngapung gitu aja kebawa aliran air. Kalo airnya ngalir dari sungai ke laut, ya dia ikut. Kalo airnya ngalir dari sungai ke got, ya ngikut juga. Kita ngerasa kita harus punya identitas, yang diikuti dengan sikap. Contohnya, kayak anak-anak Punk yang pokoknya harus punya banyak baju warna item dan nggak usah mandi walopun badan gatel-gatel dan jangan lupa pake pomade sebelum pergi. Ke manapun. Eh tapi gue belum pernah liat sih anak Punk yang setelannya Punk di kondangan atau acara tahlilan. Entah mereka mau beradaptasi buat ganti gaya sejenak buat dateng ke acara kayak gitu, atau nggak mau dan nggak pernah dateng ke acara gituan.

Tapi menurut gue, beradaptasi itu beda kok dengan nggak punya identitas. Nggak berarti dengan kita berganti-ganti peran, kita jadi fake dan nggak berjati diri. Bahkan menurut gue, ketika kita bisa fleksibel dalam beradaptasi, akan banyak ngasih diri kita sendiri keuntungan dan manfaat yang baik. Tapi emang, semua balik lagi ke masing-masing orang. Nggak ada yang salah dengan lo pengen menjalani satu peran yang ituuuu aja, yang emang udah jadi comfort zone lo.

Selanjutnya, peran kita kalo berada dalam sebuah hubungan, atau bersangkutan dengan orang lain. Di sinilah kita akan kenal sama yang namanya berkompromi. Bukan terpaksa, dipaksa, atau memaksakan. Tapi: menyesuaikan peran. 

Ada kalanya lo yang nggak biasa banyak ngomong tapi mencoba untuk bercerita, ngeluarin isi hati dan pikiran lo ke pasangan yang doyan banget ngobrol. Ada kalanya lo yang nggak biasa ngatur ini itu tapi berusaha buat jadi leader untuk beberapa hal karena pasangan lo tipe yang hayuk-hayuk cicing. Ada kalanya lo yang nggak suka makanan pedes tapi rela nemenin pasangan lo yang kalo makan cabenya harus lima belas sendok. Ada kalanya lo yang nggak biasa beres-beres di rumah tapi pas udah berumah tangga dan dapet pasangan yang super resik jadi memulai untuk beres-beres juga. Semua itu termasuk adaptasi dan menyesuaikan diri serta peran kan?

Dan peran inilah yang harus dibagi, dan dikompromikan dengan baik. Gue sampe sekarang masih nyaru dengan konsep 'kesetaraan'. Oh jelas, gue mendukung konsep-konsep kalo cewek juga punya hak-hak dan kewajiban yang sama kayak cowok, bisa jadi leader, dan nggak boleh ada di kaki cowok. Tapi buat gue, nggak semuanya harus setara. Buat gue lagi, nggak ada salahnya dalam beberapa hal, kita mengambil peran yang besar, dan dalam beberapa hal lainnya, kita melakukan peran yang kecil, sesuai sama kemampuan kita. Jujur aja, kalo misalnya dengan kesetaraan gender, perempuan bisa (atau harus bisa) jadi pemimpin dalam rumah tangga, gue nggak yakin gue bisa ngejalanin peran itu. Gue lebih memilih menyerahkan peran sebagai pemimpin hubungan ke pasangan gue, dan mengambil peran memimpin dalam hal lainnya. Misalnya, memimpin urusan rumah, mimpin ngatur pengeluaran, mimpin urusan anak, mimpin urusan seneng-seneng hahahaha, dll, dll, dll.

Yang jelas, semua peran-peran itu emang harus dikompromiin. Dan kedua belah pihak sama-sama setuju dan mau berkompromi. Nggak boleh ada yang diem-diem kesel jadi pemimpin. Diem-diem nggak suka diatur-atur. Tapi dipendem aja dengan alasan 'sabar'. Menurut gue itu bukan sabar sih, tapi bom waktu. Ketika waktunya habis, sabar itulah yang akhirnya habis dan meledak. Tapi lain halnya kalo lo 'belum' terbiasa, lalu membiasakan diri. Namanya adaptasi. Menyesuaikan peran. Dan itu emang perlu latihan kok. Aktor-aktor ngelakuin itu kan, untuk bisa menyatu dengan peran yang mereka jalani dalam setiap filmnya.

Kenapa akhirnya kita gagal dalam sebuah hubungan? Ketika kadar kompromi kita udah ngelewatin titik kritis. Suhunya (baca: tingkat kesabaran) udah overly high, dan tekanan udah nggak mampu dilakuin lagi. And that's when you called 'you've pushed yourself too hard that you can't do it anymore'. Dan boommm, kita meledak deh. Akhirnya kita nyerah. Sama kayak aktor juga. Mau se-berusaha kerasnya apapun dia mendalami sebuah peran, kalo emang kayaknya nggak cocok, akan kerasa pasti... "hengggg, I can't do this".

Maka itu, punya pasangan yang compatible emang perlu. Ada yang udah by nature, kita ketemu pasangan yang langsung klik dan udah tau perannya masing-masing dengan smooth. Ada yang dengan si dia, kita mampu untuk jadi compatible dan nggak overlap satu sama lain walaupun sebenernya kita beda. Either way, ujung-ujungnya by the grace of God sih ya yang bisa mempertemukan kita sama orang yang kayak gitu. Hahahaha. Dan ketika kita masih belum nemuin orang yang 'ituuuhhh', kita akan terus berganti peran tiap ganti pasangan. 

Panjang abis udah kayak nulis skripsi. Duh jadi kangen peran mahasiswi. Hahah. Dah ah.



Salam sayang,

Rims.


Newer Posts
Older Posts

Hello, It's Rima!

Hello, It's Rima!
A free-spirited hippy type that often get soaked from dive so deep into her complex thoughts and a lot of big feelings.

Labels

asi vs sufor engagement korean drama life menujurrumah parenthood Rania review film rima's k-drama recap

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Three years later....
  • ►  2020 (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (35)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2015 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2014 (40)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2013 (18)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (31)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)

Find something

Most Popular

  • Apa Cita-Citamu?
  • Everybody's Changing
  • Lumos
  • Do Something, Make Something
  • We Can't Wait Forever
  • Nozomi, A Hope
  • "Kalau nggak enak, kasih kucing aja"

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates