Sejak kantor pindah ke Pancoran, jarak yang harus gue tempuh setiap harinya melonjak sampai hampir dua kali lipat. Dari yang tadinya udah jauh dan macet, jadi makin super jauh dan super macet. Dengan menempuh jarak kurang lebih 50 km setiap hari untuk perjalanan rumah-kantor dan kantor-rumah, nggak jarang gue di jalanan bisa mengkhayal lima episode gimana rasanya jadi emak-emak sosialita aja.
Puncaknya adalah beberapa hari yang lalu, di mana gue menghabiskan waktu tiga jam, iyah, TIGA JAM dengan motor untuk pulang. Padahal nggak ada si Komo lewat di sepanjang jalan (YHAAA), tapi entah kenapa hari itu, semua jalan dari mulai Antasari yang biasanya cuma merayap-merayap manjah, tiba-tiba macet total nggak bergerak. Gue pun melipir ke jalan Asem yang kecil, ternyata jadi makin kecil karena penuh mobil dan motor. Sampai akhirnya mencoba peruntungan lewat Fatmawati, malah jadi terjebak.
Jadi tiga jam tersebut (bersama bensin motor yang seperti biasa udah di ambang kritis) gue habiskan dengan: kaget - marah-marah - pusying - berusaha tegar - capek - sesek - nangis - berhenti nangis - pasrah - capek lagi - nangis lagi - berhenti nangis lagi - pasrah lagi - dan terus aja looping. Sambil drama ngadu-ngadu ke orang-orang. Ngadu ke mamah. Ngadu ke Kak Kiram. Ngadu ke anak-anak kantor. Ngadu ke media sosial. Ngadu ke Tuhan.
Nggak lupa juga pake bumbu-bumbu, "WHY AM I HEREEEE?", "WHY SHOULD I WENT THROUGH THIS STRUGGLE EVERYDAAAY?", "WHY CAN'T I BE HAPPY AND LIVING AN EASY LIFE?", sampai mikir.... "why human like us is trying too hard to live, if in the end we all will die and won't bring anything from this world?'. Iya, memang sungguh drama.
Keluhan gue tentang jarak dan macetnya dari rumah ke kantor dan kantor ke rumah terjadi setiap hari selama henggg kira-kira dua minggu terakhir. Tapi gue tetep kekeuh untuk menjalani rute yang itu. Karena ngerasa cuma tau jalanan itu, dan nggak berani buat nyari-nyari jalan lain,walaupun banyak yang ngasih tau ini itu, termasuk Ayah yang sampai kesel dan mere-mere, "Kakak tuh kayak mau ke Bogor tapi lewat Bandung tau nggak!"
Sampai akhirnya di suatu Magrib sebelum , gue mengecek maps lalu tertohok karena melihat warna merah di sepanjang jalan yang biasa gue lewati. "Kayaknya gue nggak sanggup deh nih,"kata gue dalamhati. Trus memutuskan untuk nyoba jalan lain. Setelah nanya-nanya ke anak-anak kantor dan berbekal panduan google maps, gue pulang lewat rute baru, Duren Tiga - Pejaten - Warung Buncit - Cilandak. Dan hasilnya.......sungguh luar biasa. Dua hari ini, gue bisa sampai ke rumah cuma dalam waktu satu jam lebih-lebih dikit. Masha Allah! *lalu sujud syukur*
Trus kesenengan. Trus merasa ih bodoh banget kenapa nggak dari awal aja. Hahaha. Ternyata emang itu fungsinya dibikin banyak jalan ya, biar kita bisa milih, biar kita bisa nyoba, biar kita nggak stuck di satu tempat aja. Karena terkadang, zona nyaman yang udah kita punya justru sebenernya nggak lebih baik dari banyak hal di luar sana. Dan karena kita sibuk living in our bubble, jadi nggak berani untuk step out deh.
Kalo jalan yang ini nantinya stuck juga, ya tinggal ngeberaniin diri untuk nyoba jalan lain. Karena banyak jalan untuk pulang, dan banyak cara untuk mencapai rumah. :)
Puncaknya adalah beberapa hari yang lalu, di mana gue menghabiskan waktu tiga jam, iyah, TIGA JAM dengan motor untuk pulang. Padahal nggak ada si Komo lewat di sepanjang jalan (YHAAA), tapi entah kenapa hari itu, semua jalan dari mulai Antasari yang biasanya cuma merayap-merayap manjah, tiba-tiba macet total nggak bergerak. Gue pun melipir ke jalan Asem yang kecil, ternyata jadi makin kecil karena penuh mobil dan motor. Sampai akhirnya mencoba peruntungan lewat Fatmawati, malah jadi terjebak.
Jadi tiga jam tersebut (bersama bensin motor yang seperti biasa udah di ambang kritis) gue habiskan dengan: kaget - marah-marah - pusying - berusaha tegar - capek - sesek - nangis - berhenti nangis - pasrah - capek lagi - nangis lagi - berhenti nangis lagi - pasrah lagi - dan terus aja looping. Sambil drama ngadu-ngadu ke orang-orang. Ngadu ke mamah. Ngadu ke Kak Kiram. Ngadu ke anak-anak kantor. Ngadu ke media sosial. Ngadu ke Tuhan.
Nggak lupa juga pake bumbu-bumbu, "WHY AM I HEREEEE?", "WHY SHOULD I WENT THROUGH THIS STRUGGLE EVERYDAAAY?", "WHY CAN'T I BE HAPPY AND LIVING AN EASY LIFE?", sampai mikir.... "why human like us is trying too hard to live, if in the end we all will die and won't bring anything from this world?'. Iya, memang sungguh drama.
Keluhan gue tentang jarak dan macetnya dari rumah ke kantor dan kantor ke rumah terjadi setiap hari selama henggg kira-kira dua minggu terakhir. Tapi gue tetep kekeuh untuk menjalani rute yang itu. Karena ngerasa cuma tau jalanan itu, dan nggak berani buat nyari-nyari jalan lain,walaupun banyak yang ngasih tau ini itu, termasuk Ayah yang sampai kesel dan mere-mere, "Kakak tuh kayak mau ke Bogor tapi lewat Bandung tau nggak!"
Sampai akhirnya di suatu Magrib sebelum , gue mengecek maps lalu tertohok karena melihat warna merah di sepanjang jalan yang biasa gue lewati. "Kayaknya gue nggak sanggup deh nih,"kata gue dalamhati. Trus memutuskan untuk nyoba jalan lain. Setelah nanya-nanya ke anak-anak kantor dan berbekal panduan google maps, gue pulang lewat rute baru, Duren Tiga - Pejaten - Warung Buncit - Cilandak. Dan hasilnya.......sungguh luar biasa. Dua hari ini, gue bisa sampai ke rumah cuma dalam waktu satu jam lebih-lebih dikit. Masha Allah! *lalu sujud syukur*
Trus kesenengan. Trus merasa ih bodoh banget kenapa nggak dari awal aja. Hahaha. Ternyata emang itu fungsinya dibikin banyak jalan ya, biar kita bisa milih, biar kita bisa nyoba, biar kita nggak stuck di satu tempat aja. Karena terkadang, zona nyaman yang udah kita punya justru sebenernya nggak lebih baik dari banyak hal di luar sana. Dan karena kita sibuk living in our bubble, jadi nggak berani untuk step out deh.
Kalo jalan yang ini nantinya stuck juga, ya tinggal ngeberaniin diri untuk nyoba jalan lain. Karena banyak jalan untuk pulang, dan banyak cara untuk mencapai rumah. :)
Beberapa hari-bahkan minggu- belakangan ini,
pembicaraan-pembicaraan di sekeliling saya lagi dipenuhi sama pembahasan dan
diskusi mengenai: kesetaraan, gender, prinsip, pernikahan, hingga hidup. Iyah,
sungguh sangat mengherankan, bisa se-berfaedah itu topiknya, hahaha. Yang bikin otak jadi'penuh' sendiri,
haha. Kira-kira (sebagian) isinya gini nih:
"Kenapa sih, perempuan kan koar-koar tentang
emansipasi, tapi kalau di busway/kereta, maunya diproritasin untuk duduk? Ini
terlepas dari lansia atau ibu hamil ya, perempuan biasa aja gitu."
"Kenapa perempuan tuh selalu dianggap/menganggap
dirinya lemah, padahal jelas-jelas perempuan justru punya endurance yang lebih
daripada laki-laki. Makanya, perempuan sanggup menstruasi, hamil sembilan
bulan, melahirkan, sampe menyusui."
"Indonesia masih butuh feminis, tapi feminis yang ngerti permasalahan, dan kebutuhan perempuan yang sebenernya, di ranah bawah, di daerah, orang-orang yang masih kurang pendidikan dan masih terbelakang. Nggak cuma koar-koar pake permasalahan orang kota doang."
"Kenapa cewek kalo manja, kesannya tuh nyusahin cowok
banget. Padahal kalo cowok yang manja, cewek biasa aja, malah seneng."
"Apa sih bedanya manja sama nggak mandiri?"
"Menurut lo bener nggak, kalau gimanapun juga, cowok
emang kodratnya sebagai pemimpin. Apalagi dalam rumah tangga?"
"Di Indonesia tuh, penghasilan suami ya untuk suami
sama istri. Kalo penghasilan istri, buat dirinya sendiri. Tapi gue sama istri
gue nggak apa-apa sih, kayak gitu."
"Itu menjunjung tinggi kesetaraan, atau sebenernya si
cowok nggak mau/nggak mampu aja punya tanggung jawab yang lebih? Jadinya
berlindung di balik 'kesetaraan'."
"Kalo cowoknya punya penghasilan yang lebih rendah dari
si ceweknya, apa cowok masih tetep harus menafkahi si cewek?"
"Tapi ketika menikah kan, cowok mengambil alih seluruh
tanggung jawab atas si cewek, yang tadinya jadi tanggung jawab orangtua si
cewek. Termasuk soal menafkahi, lahir batin."
"Waktu gue mau nikah, calon suami gue minta gue untuk
belajar, seenggaknya baca-baca soal hadist tentang pernikahan, termasuk juga
soal tanggung jawab dan kewajiban istri-suami."
"Gue tetep butuh nahkoda buat kapal gue nanti sih. Gue jadi co-nahkodanya."
"Kalo udah nikah, prinsip tentang finansial itu penting banget. Nggak bisa boong, kita nggak bisa hidup cuma pake cinta."
"Menurut lo, nikah tuh butuh nggak sih?"
"Gue sih butuh nikah, biar kalo nanti udah tua, ada
yang ngurusin."
"Kenapa sih pernikahan harus dicatet-catet sama
pemerintah?"
"Menurut gue nikah dicatet-catet tuh nggak perlu, kalo
sama-sama cinta dan udah berkomitmen berdua, yaudah jalanin aja!"
"Pencatatan pernikahan itu kayak semacam 'security'
gitu nggak sih?"
"Prinsip gue sebagai laki-laki sih, selama gue bisa,
gue akan lakuin buat perempuan gue."
"Di atas prinsip tuh masih ada yang lebih tinggi lagi
ya, yaitu kepercayaan, iman."
"Yang lebih penting tuh kesetaraan untuk mendapatkan
hak nggak sih, ketimbang menyetarakan kewajiban?"
"Gue bukan feminis, gue lebih suka nyebut diri gue
humanis."
"Menurut gue, di atas kesetaraan, ada yang lebih
penting, yaitu keadilan. Setara nggak sama dengan adil, dan adil belum tentu
setara."
"Gimana caranya menafsirkan keadilan yang bener-bener
adil?"
Daaaaan..... kalau dilanjutin, akan jadi sangat panjang
serta bikin makin pusing, hahahaha. Tapi seru banget ngedengerin
pendapat-pendapat yang beda-beda itu. Trus, saya akhirnya cuma bisa
menyimpulkan, kalau dari semua-mua yang udah diperdebatkan itu, hasilnya
adalah: nggak ada kesimpulannya. :)
Iya, menurut saya, nggak ada yang benar dan yang salah. Cara
berpikir dan memandang kehidupan masing-masing orang tuh bukan ilmu pasti yang
bisa dikroscek bener atau nggak jawabannya, nggak kayak fisika atau kalkulus lanjut
(DUH!). Menarik banget dengerin cerita adik saya tentang materi kuliahnya yang
membahas gender, lalu sekelas saling melempar pendapat pro dan kontra atas
sebuah situasi, yang lalu berakhir juga tanpa kesimpulan yang mutlak. Bikin
saya makin pengen belajar banyak tentang sosiologi.
Terlepas dari itu, yang saya juga sadari adalah pada
akhirnya, isi otak dan hati manusia emang beda-beda kok. Pun dengan perihal
keyakinan, kepercayaan, serta prinsip yang dipegang. And in the end, it's okay
to be different. It's okay, to agree to disagree.
Selama masing-masing nggak saling merugikan, dan meyakiti
satu sama lain. Selama masing-masing nggak saling mengganggu, dan memaksakan
kehendak satu sama lain. Selama masing-masing nggak memaksakan kesetaraan dalam
sebuah pendapat. Saya kira, semua kembali kepada hak masing-masing manusia
untuk berpendapat berkeyakinan, bahkan beragama, serta kewajibannya untuk mempertanggung jawabkan pilihannya tersebut. Lakum diinukum wa liya diin. (QS: 109; 6)
Dan kita, hanya perlu mencari serta menemukan orang yang
memiliki keyakinan, kepercayaan, prinsip, serta visi dan misi yang sama dengan
kita, dalam menjalani hidup. Atau, yang dengan bersama dia, kita bisa mencapai
satu titik temu bernama kompromi dan komitmen, untuk tetap bisa menyelaraskan buah pikiran
dan hati masing-masingnya. Itu semua hanya bisa terjadi, kalau saling terbuka dan mau membicarakannya.
Bukannya itu juga salah satu konsep dari berpasangan, ya nggak sih? Untuk bisa saling mengenal satu sama lain. Untuk bisa bersatu, bukan harus menyatu. Untuk bisa menggerakan sebuah gerobak dengan dua roda yang -nggak perlu berdempetan- tapi tetap bergerak ke arah yang sama.
Tapi kalau nggak bisa, ya nggak perlu dipaksakan. Mungkin, bukan
dia orangnya. :)
| Bali, December 2016 |
As I grow older, I thought there are so many more important
things to be thinking about, things to be done, becoming what we want to
become, and all those never-ending life's matters other than love. But at the
same time, I realize that human could never give up on love too. In the
end, it's always the thing they -we are- all searching for, and maybe,
need of. Even if they're just a teenager, twenty-somethings, or real adults.
Everyone has different yet same question about love. And
these days, it seems like nearly everyone (or at least, everyone I know) is in
such a hurry for finding, or settling their "true love".
I find this 'urge' to have 'the one' is somehow.....
dangerous (?) that we could fell into the trap called phantasm. Just because we
don't want to be alone, we told ourself that we love 'her/him'.
We think... It's okay, even we spent the dates staring each other's
phones, instead of looking into each other's eyes.
We think... It's okay, even we spent hours tried to understand their
stories with mind's blank and vice versa, instead of actually talking and
sharing and exchanging many random things to serious matters we could repeated all over again with
them without ever feels bored.
We think... It's okay, even we spent times together with them with this
awkward smile, instead of laughing your ass together over silly jokes only both
of you could understand.
We think... It's okay, even we spent days without having a proper
communications than 'how's ur work?', 'how are u?', etc, instead of really
care about each other conditions immensely.
We think... It's okay, even we spent months, years, having this
'emotional repression' and always trying to look okay, trying to be strong,
trying to be happy with them, instead of crying our heart out and tell them
what we need and make them a shoulder to cry on.
NO.
It is NOT okay.
We don't have to be -or feel- content with that, just
because our illusion that he/she is the one, we can't lose them, we love them,
we can't be alone, anymore.
Everyone deserves the right person for them.
A person who makes our heart beat faster by simply saying
our name. A person who makes a big smile on our face whenever we look at them. A
person who will twirl the strands of our hair around their fingers when we feel
tired. A person who can understand our mixed feelings and emotions, and hold
our hands to make us know, they are there for us. A person.... I don't know.
Everything is different for everyone.
But I know now, what I need is... a person whom I can
completely trust, a person I could lean on, a reliable person that want to
protect me and all my feelings. With him, I can bare all my weakness, without
having any worries. With him, I have the same vision and mission to live the life. With him, I'm sure he could be my -not only a partner, but a leader- until the afterlife.
And for meet that one who speaks for our souls, maybe we don't have to be in
hurry. Maybe?
I wasn't ever really like my month actually. I never did.
November itu...... hujan lagi deras-derasnya. Musim liburan udah lewat. Jarang ada tanggal merah. Nggak ada hari besar atau perayaan yang seru. Pokoknya, kayak bulan yang pengen dicepetin biar buruan ketemu sama Desember, trus tahun baru.
Selama dua puluh-sekian tahun ngelewatin hari lahir di bulan November, lebih dari setengahnya pasti hujan. Dan itu, bikin gue sebel. Acara ultah yang berantakan, surprise yang gagal. Dua tahun lalu, gue ngurung diri seharian, dan me-non aktifkan hape gue sepanjang hari. Ceritanya mau kontemplasi, hahaha. Muram abis. Dan tahun kemarin yang paling parah, gue pulang kantor hujan-hujanan, lalu disambut macet nggak bergerak di jalan Fatmawati, dan nyampe rumah dalam waktu 3,5 jam. Dan begitu gue sampe rumah, sodara-sodara gue yang tadinya kumpul udah pada pulang, dan nyokap gue udah tidur.
Nah tahun ini, gue merencanakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Bahwa gue pengen melewati hari tersebut di tempat yang bener-bener asing, yang belum pernah gue kunjungi. Sebenernya kedok aja sih, biar bisa liburan, hahaha. Dan highlightnya, gue pengen coba liburan sendirian. Ala-ala solo traveler getoooh. Biar kontemplasinya lebih maksimal. Yha.
Kepergian gue kemarin kayak ke-impulsif-an yang direncanakan. Ide dan dorongan itu dateng gitu aja, lalu gue merencanakannya dengan memilih tempat mana yang mau gue datengin. Pilihan gue jatuh ke Belitung. Kenapa? Nggak ada alasan yang khusus, sih, sebenernya. Tiba-tiba aja kepikiran Belitung, kayak ada lampu-lampu nyala gitu di otak, "a-ha! Ke Belitung ah!".
Yaudah, trus gitu. Sok-sokan mau backpacking, trus browsing-browsing ke blog-blog banyak orang. Dan dari situ mesen tiket penginapan. Beli tiket pesawat. Done. Lainnya, gue nggak merencanakan apapun. Nggak bikin itinerary, nggak punya destinasi yang harus gue kunjungi, apapun. Yang gue persiapkan cuma: harus nyewa motor untuk keliling sendirian, karena di sana nggak ada kendaraan umum sama sekali.
Masalah selanjutnya adalah izin. Dengan orang tua gue yang begitu protektifnya (yang anaknya jam 9 malem belum pulang aja udah di-rong-rong), gue bingung banget mesti gimana minta izinnya. Bilang traveling sendirian sama aja cari mati. Udah gitu di hari ultah pula. Setelah maksa minta izin berbekal "udah beli tiket segala macem dan nggak bisa di-refund", serta kelihaian dalam bersilat lidah dan mencari celah, akhirnya nyokap dengan berat hati ngizinin.
Laluuuu, karena ini awalnya bukan mau nyeritain tentang liburan, jadi kita skip aja yah otak dan tangan, kenapa kamu malah nulis ngalor ngidul sih zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz baiklah. Jadi, apa yang gue dapatkan dari liburan berkedok kontemplasi di pulau seberang tersebut? Pleasant surprises. :)
Banyak bangeeeeetttt kejutan-kejutan yang terjadi, and it's so magical ♥♥♥ And I got the very BEST surprise I've ever got on my whole existence. Sampe speechless nggak tau harus gimana, ngomong apa, berbuat apa. Cuma bisa mikir berulang kali, ini beneran nggak sih? :))
Dan setelah itu, Tuhan masih ngasih kejutan-kejutan lain untuk gue, sepanjang bulan. Membuat gue nggak boleh lupa untuk terus bersyukur, dan membuang jauh-jauh pikiran kalau gue kena jinx dan selalu ngerasa muram di bulan November. Apakah kejutannya selalu menyenangkan? Jelas nggak, tapi menentramkan. Mengajarkan gue untuk terus dan terus melapangkan hati, membuka pikiran lebih luas lagi dan melihat segala sesuatu as one big picture, sekaligus mengingatkan, kalau susah senang dalam hidup emang harus gue hadapi, dan hidup adalah perjalanan. Yang akan gue tinggalin juga pada akhirnya, entah kapan. Dan masih ada perjalanan lain menanti gue, setelah kehidupan yang satu ini. Untuk itu, gue harus bersiap-siap, dan menabung.
Yang gue cari juga dari perjalanan sendiri gue kemarin, adalah bahwa gue pengen membiasakan kesendirian. Bahwa gue harus bisa bergantung kepada diri gue sendiri, bukan ke orang lain, siapapun itu, Bahwa gue harus bisa berteman dengan baik dengan diri gue sendiri, dan mengenal diri gue lebih baik dari siapapun. Bahwa gue harus percaya, kalau kesendirian itu baik adanya.
Hasilnya? Ternyata pergi sendirian emang menyenangkan Gue bisa bengong-bengong sepuasnya, beraniin diri pergi ke tempat-tempat yang asing, ketemu orang-orang baru dan berkenalan dengan manusia-manusia lain, bertukar cerita, anything, kayak apa yang udah sering dipaparkan oleh para solo traveler. It was a rare yet zuper duper exciting and precious experience! Dan mudah-mudahan, ini goals sih, bukan menjadi pengalaman solo traveling gue yang terakhir. Pengen lagi lagi dan lagi!
But at the end, when I was all alone and suddenly I saw him in front of my door, I know I'm finally home.
and I don't want to be alone anymore. :)
Ps: Jadi, apakah tahun ini ulang tahunnya bebas dari hujan? Ooooo tentu tidak. Di Belitung, 13 November kemarin adalah salah satu hujan yang nyebabin banjir terparah. Dan hujannya nggak berhenti dari jam 3 pagi sampai jam 3 sore.
Ps 2: Padahal hari besoknya langsung cerah banget.
Ps 3: Kayaknya emang udah nasib, ulang tahun selalu hujan. Di manapun. Hahahaha.
Hampir dua bulan
lalu, gue memutuskan untuk meng-uninstall Path di hape gue. Aplikasi yang
selama beberapa tahun terakhir, jadi salah satu aplikasi yang paling sering gue
buka tiap kali gue memegang hape. Yang ikonnya sampe gue taro di home screen,
biar gampang nyarinya. Yang tiap hari pasti gue scroll, walaupun nggak lagi meng-update
apapun. Yang bikin gue tau segala jenis update-an temen-temen gue, mereka lagi
ngapain, mereka lagi di mana, mereka habis nonton film apa, mereka lagi
dengerin lagu apa. Yang bikin gue pun *serasa* nggak mau kalah untuk ikutan
meng-update segala macem hal dalam hidup gue, dari mulai yang nggak penting
sampai yang penting tapi sebenernya nggak perlu juga orang tau.
Sampai akhirnya,
suatu ketika gue mikir.... "what the hell I'm doing". Dan gue ngerasa
capek dan muak dan 'penuh' sama kehidupan di Path itu. Apa ya, ngerasa terlalu
bising dan nggak memberikan gue ruang untuk bernapas dan akhirnya gue
memutuskan untuk keluar. Gue pun meng-uninstall aplikasi tersebut dengan
pesimisme yang sangat tinggi (HAHAHA), dan yakin kalau gue nggak bakalan tahan
lama-lama nggak main Path. Tapi ternyata, dua bulan kemudian....
Hey, it turns out
I actually okay and nothing is feel missing. Emang sih gue sangat ketinggalan
berita dan gosip-gosip apapun itu. Sampai waktu gue ketemuan sama temen-temen
kuliah gue dan mereka ngomongin suatu hal yang gue nggak ngerti, dan salah
seorang temen gue bilang, " Itu ada di Path tauuuuu, lo ngilang sih!".
And I'm like..... Errrr....
Whaaaa, ternyata
segitunya ya sekarang orang dianggap hilang ketika nggak aktif di media sosial.
Padahal gue cuma berhenti mainan satu platform loh. Dan gara-gara nggak
nge-Path juga, gue malah nyari pelarian ke media sosial lainnya, Instagram.
Satu tahun yang lalu, gue nggak sebegininya sama IG. Sekarang, nggak ada
seharipun gue nggak buka IG. Dari emang update foto setelah mikir lama,
milih-milih yang paling instagram-able, nungguin prime time, deg-degan bakalan
dapet likes banyak nggak, trus jadi ngelihat-lihat feeds orang, dari temen
sampai yang nggak gue kenal. Trus berakhir dengan penyesalan (yang selalu terjadi,
tapi juga selalu gue ulangi).
Gue sering bilang
ke diri gue sendiri, "Rim plis deh, get a life kali! Ngapain sih mainan
medsos mulu, ngeliatin hidup orang mulu," tapi nyatanya, sekarang justru
orang-orang merasa living their life kalau udah udpate sesuatu di media sosial.
Ya nggak sih? Coba aja perhatiin postingan lo atau temen-temen lo atau
orang-orang yang lo follow. Dari mulai bangun tidur trus selfie berhestek #IWokeUpLikeThis, fotoin makanan sebelum
dimakan sampe keburu dingin, fotoin dirinya lagi kerja, lagi sekolah, lagi di
jalan, lagi pacaran biar jadi #RelationshipGoals, lagi traveling, lagi ngantuk,
lagi kebelet boker, lagi napas. HHHH gue jadi kayak nyinyir.
No, poin gue
bukan tentang apa yang di-update yah, nggak ada masalah dan nggak ada salahnya
dengan itu semua, pun gue melakukannya. Yang mau gue bold adalah: kita justru
merasa hidup ketika hidup kita terekspos di sana. Kalau lagi ke mana, ngapain,
dll trus belum update, pasti kerasa ada yang kurang. Ngerasa nggak lengkap.
Ngerasa gatel pengen nge-share. Ngerasa harus punya sesuatu yang bagus buat
dilihat orang-orang. Ngerasa minder sama kehidupan orang lain yang kayaknya
indah dan keren dan enak banget. Ngerasa ngiri karena feed sebelah estetik
abis, nggak kayak kita yang likes nya cuma belasan aja. Ngerasa kurang mulu.
Ngerasa nggak puas. Akhirnya mumet sendiri.
Akhirnya apapun
yang di-update, kita jadi mikir bukan buat kita sendiri, tapi buat dilihat
orang. Buat diperhatiin. And I find that (this is to myself for doing that
too), it's so pathetic.
Trus beberapa
hari ini, I'm at the point of seriously considering deleting all of my
social media accounts. Pengeeeen, tapi udah yakin duluan kalau gue nggak
akan bisa. Dan nggak yakin juga apakah emang perlu. HAHAHA, labil abis. Kata
seseorang, "dasar life quarter crisis!". Wqqq. Gue nggak ngerti yaa is it
normal or not, mumetin hal yang (mungkin) nggak penting kayak gini. Huaaa. Trus
jadi penasaran, dulu kok kita bisa ya pas belum ada gini-ginian? Dulu kita
ngapain aja ya kalau lagi bosen?
Mungkin emang
nggak bisa berhenti main media sosial, dan mungkin nggak perlu berhenti juga.
Tapi mungkin mau coba ngebatasin ah, mulai sekarang. Dan ngejadiin
aplikasi-aplikasi itu sebagai hiburan aja, bukan suatu kebutuhan. Pun kalaupun justru
ngerasa makin sepi dan ngerasa jadi 'outcast' or being 'left out' dari
kehidupan dunia maya, I'll make sure that hey, I'm still living my real-life
here, the messy days, the ups and downs, the dull, and the unphotogenic moments
that could ruin your feeds. And whether
you know or not, you care or not, either way it's fine. :)
Ps. Gue punya
satu temen yang nggak pernah kelihatan sama sekali di internet. Nggak punya
Path, nggak punya IG, nggak mainan Twitter lagi, nggak ngecek Fesbuk, bahkan nggak
pernah pasang DP di BBM/Line, nggak pernah nongol di group chat, tapi pas
ketemu, ternyata dia masih baik-baik aja. Dan hey, malah jadi kangen-kangenan
beneran, banyak cerita, dan pengen tau banget selama ini gimana kabarnya! :D
Ps 2. And she's
particularly one of the persons that make me want to quit this internet life. :)
Ps 3. KAYAKNYA BENERAN LAGI FASE LABIL BANGET DEEEH HAHAHA
Ps 4. I'm not even 23 can you believe that???!! yet I feel so old and tired of these thinking and feeling. Oh my old soul :'''))
Suatu waktu, saya iseng membaca ulang semua tulisan di blog saya, dari awal sampai tulisan yang terakhir saya tulis. Hasilnya: saya senyum-senyum, kening saya menyerngit, saya ngangguk-ngangguk, berusaha mengingat-ingat, bernostalgia, muncul perasaan,,,, apa ya, kata lain dari rindu? bukan yang cuma sekadar rindu gitu, lebih ke... longing feeling kali yah. rasa hampa. Dan yang paling utama sih saya jadi sering ngomong ke diri saya sendiri, "wtf I wrote!", "idiiiiihhhh", "gue ngapain nulis beginian sih???", dan berakhir dengan puluhan postingan di blog ini yang saya hapus dengan penuh kekejaman dan rasa malu warbiasah, serta akun Tumblr yang saya putuskan untuk dihilangkan sekalian karena nggak sanggup menghapus semua postingan super galau yang ada di sana. Hahahahaha.
Tapi di balik "hahahaha"-nya, setelah itu ada rasa yang aneh yang tertinggal.
Dulu, gue pernah kayak gitu.
Dulu, gue pernah ngerasain itu.
Dulu, gue pernah ngalamin itu.
Dulu, gue pernah pergi ke situ.
Dulu, gue pernah bahagia kayak gitu.
Dulu, gue pernah sesedih itu.
Dulu, gue pernah ngedapetin itu.
Dulu, gue pernah kehilangan itu.
Dulu, gue pernah mencintai seperti itu.
Perasaan-perasaan nggak terdefinisikan yang tiba-tiba aja memenuhi diri saya, sampai kadang jadi sesak.
Rasa yang sama setiap kali saya blogwalking. Oh ya, saya suka bangeeet blogwalking. Biasanya mampir ke blog temen-temen saya, orang-orang yang saya kenal atau penulis favorit saya, dan sering kali tuh saya tiba-tiba sampai ke blog random yang saya sama sekali nggak tahu sebelumnya. Entah. :/
Daaaaaan..... Selalu banyak rasa yang mampir ke saya setelah itu. And it's often very overwhelming. Kayak habis mengintip buku harian orang. Mengetahui kehidupan mereka, mengetahui rahasia-rahasia yang mungkin nggak bisa diungkapin melalui lisan, mengetahui cerita yang kadang menyenangkan, tapi nggak jarang pula bikin saya ikut ngerasain kesedihannya, kehilangannya, keputus asaannya, kegundahannya, mengetahui pemikiran-pemikiran setiap orang yang unik dan beda-beda tapi bikin saya ngangguk-ngangguk sendiri, dan satu yang kadang paling mengusik saya..... ikut mengetahui masa lalu mereka.
Lucu ya, gimana dari cuma "mengintip" tulisan seseorang aja, kita jadi bisa ikut merasakan perasaan yang lagi mereka rasain ketika menulis tulisan itu. Gimana kita jadi ikut membayangkan menjadi mereka, dan mengalami apa yang mereka ceritain itu. Gimana kita jadi ngerasa sedikit "mengenal", atau "memahami" mereka, dari apa yang ditulis. Gimana kita merasa ikut tergugah, tertular bahagia, ikutan sedih, merasa cemburu, juga... jatuh cinta.
Trus abis itu jadi sendu.
Jadi hampa.
Sekaligus sesak.
Overwhelming feelings.
Yang nggak bisa didefinisiin.
Pun apa sebabnya dan kenapa bisa begitu.
Can you?
Ps. current favorite songs yang makin cocok nemenin waktu bersendu-sendu saya: all self-writen from Nicole Zefanya. This girl is so talented. You should give a try here:
Pertama kali gue nemuin pemikiran tentang Peran ini adalah
dari dua orang. Pertama, Mas Anies Baswedan. Kedua, Mas Rene Suhardono.
Beberapa tahun yang lalu, gue pernah bersinggungan langsung dengan Mas Anies
ketika bergabung bersama Turun Tangan. Ketika itu, kami -para relawannya-
bersama-sama dengan Beliau mempersiapkan pencalonannya menjadi Capres dalam
Konvensi Partai Demokrat. Dan pada masa-masa itu, pertemuan dengan Mas Anies
nggak cuma melulu ngobrolin soal politik aja, tapi juga banyak gagasan-gagasan
dan pemikiran-pemikiran (which is the reason kenapa gue respek banget sama
Beliau).
Sebelum akhirnya menjabat jadi Mendikbud, banyak banget yang
menentang Mas Anies untuk terjun ke politik. Namanya bersih, cukup cemerlang
sebagai rektor termuda di Indonesia, masuk jadi salah satu cendekiawan
berpengaruh di dunia, sekaligus inisiator banyak banget gerakan-gerakan
pendidikan. "Buat apasih Pak Anies masuk politik? Politik itu kotor!
Kenapa nggak tetep jadi rektor aja dan kalopun mau ngebenahin pendidikan
Indonesia, kan bisa dari luar pemerintahan. Kayak yang selama ini udah
dilakuin."
Waktu itu, Mas Anies ngejawab intinya bahwa dengan peran
yang lebih besar, akan ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Perannya
mungkin akan berubah, dari rektor ke panggung politik. Tapi Beliau tetep punya
misi, punya genre yang sama yang akan terus diusung, yaitu: membenahi
pendidikan.
Kedua, satu tahun yang lalu gue pernah mewawancara Rene
Suhardono secara langsung. Mas Rene dikenal sebagai penulis buku, public
speaker, sampe founder beberapa organisasi social empowerment. Gue nanya,
"Mas Rene sebenernya profesinya tuh apasih?" dan jawaban dia adalah:
"Profesi buat saya tuh kayak peran. Jadi kalo ditanya profesi saya sebagai
apa, sama kayak nanya ke Brad Pitt, 'peran lo sebagai apa?' Dia akan jawab,
'tergantung filmnya'. Tapi yang esensial itu karir. Karir tuh segala sesuatu
yang kita jalanin untuk mencapai misi kita. Nah peran atau profesi apapun akan
saya jalani untuk mencapai misi."
Peran.
Gue jadi inget lagunya Nicky Astria juga, "Dunia ini
panggung sandiwara. Cerita yang mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi
dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan. Yang harus kita mainkan."
Sebelumnya gue nggak pernah merhatiin kalo ternyata liriknya
se-uuuhh itu ya.
He-euh. Dalam hidup, kayaknya kita akan selalu ganti-ganti
peran deh. Di rumah, kita berperan sebagai anak. Di sekolah, kita berperan
sebagai murid. Di kantor, kita berperan sebagai pegawai. Tapi peran kita nggak
cuma stagnan gitu aja, ada kalanya, dan ada waktunya, kita pasti harus ganti
peran.
Di rumah, kita nantinya ganti peran jadi istri/suami, bahkan
ibu/bapak, bahkan nenek/kakek. Di sekolah, kita mungkin bisa berganti peran
jadi guru. Di kantor, mungkin kita akan berperan sebagai bos. Di lingkungan
pertemanan yang beda, kita mungkin juga bisa punya beberapa peran yang beda. Di
geng A, kita jadi si temen yang suka ngatur-ngatur. Di geng B, kita jadi
pendengar dan tempat curhat yang baik. Di geng C, kita jadi si tukang lawak.
Dll. Dsb. Etc.
Suka nggak suka, mau nggak mau, se-idealis-idealisnya kita,
kita pasti harus berubah kok. Beradaptasi. Demi bisa bertahan. Udah nature dan
fitrahnya makhluk hidup nggak sih, untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan
buat survive? Dari dulu sih gue selalu diajarin gitu, di pelajaran Biologi.
Bukan yang paling kuat yang bertahan, tapi yang paling adaptable.
Seringkali, kita susah atau bahkan menolak buat berubah dan
menyesuaikan diri demi beradaptasi. Gue ya gue, gue gini orangnya. Iya. Kita punya
prinsip, karena kita butuh pengakuan dan pembuktian eksistensi diri, nggak kayak
ikan mati yang ngapung-ngapung gitu aja kebawa aliran air. Kalo airnya ngalir
dari sungai ke laut, ya dia ikut. Kalo airnya ngalir dari sungai ke got, ya
ngikut juga. Kita ngerasa kita harus punya identitas, yang diikuti dengan
sikap. Contohnya, kayak anak-anak Punk yang pokoknya harus punya banyak baju
warna item dan nggak usah mandi walopun badan gatel-gatel dan jangan lupa pake
pomade sebelum pergi. Ke manapun. Eh tapi gue belum pernah liat sih anak Punk
yang setelannya Punk di kondangan atau acara tahlilan. Entah mereka mau
beradaptasi buat ganti gaya sejenak buat dateng ke acara kayak gitu, atau nggak
mau dan nggak pernah dateng ke acara gituan.
Tapi menurut gue, beradaptasi itu beda kok dengan nggak
punya identitas. Nggak berarti dengan kita berganti-ganti peran, kita jadi fake
dan nggak berjati diri. Bahkan menurut gue, ketika kita bisa fleksibel dalam
beradaptasi, akan banyak ngasih diri kita sendiri keuntungan dan manfaat yang
baik. Tapi emang, semua balik lagi ke masing-masing orang. Nggak ada yang salah
dengan lo pengen menjalani satu peran yang ituuuu aja, yang emang udah jadi
comfort zone lo.
Selanjutnya, peran kita kalo berada dalam sebuah hubungan,
atau bersangkutan dengan orang lain. Di sinilah kita akan kenal sama yang
namanya berkompromi. Bukan terpaksa, dipaksa, atau memaksakan. Tapi: menyesuaikan peran.
Ada kalanya lo yang nggak biasa banyak ngomong tapi mencoba
untuk bercerita, ngeluarin isi hati dan pikiran lo ke pasangan yang doyan
banget ngobrol. Ada kalanya lo yang nggak biasa ngatur ini itu tapi berusaha
buat jadi leader untuk beberapa hal karena pasangan lo tipe yang hayuk-hayuk
cicing. Ada kalanya lo yang nggak suka makanan pedes tapi rela nemenin pasangan
lo yang kalo makan cabenya harus lima belas sendok. Ada kalanya lo yang nggak
biasa beres-beres di rumah tapi pas udah berumah tangga dan dapet pasangan yang
super resik jadi memulai untuk beres-beres juga. Semua itu termasuk adaptasi
dan menyesuaikan diri serta peran kan?
Dan peran inilah yang harus dibagi, dan dikompromikan dengan
baik. Gue sampe sekarang masih nyaru dengan konsep 'kesetaraan'. Oh jelas, gue
mendukung konsep-konsep kalo cewek juga punya hak-hak dan kewajiban yang sama
kayak cowok, bisa jadi leader, dan nggak boleh ada di kaki cowok. Tapi buat
gue, nggak semuanya harus setara. Buat gue lagi, nggak ada salahnya dalam
beberapa hal, kita mengambil peran yang besar, dan dalam beberapa hal lainnya,
kita melakukan peran yang kecil, sesuai sama kemampuan kita. Jujur aja, kalo
misalnya dengan kesetaraan gender, perempuan bisa (atau harus bisa) jadi
pemimpin dalam rumah tangga, gue nggak yakin gue bisa ngejalanin peran itu. Gue
lebih memilih menyerahkan peran sebagai pemimpin hubungan ke pasangan gue, dan
mengambil peran memimpin dalam hal lainnya. Misalnya, memimpin urusan rumah, mimpin
ngatur pengeluaran, mimpin urusan anak, mimpin urusan seneng-seneng hahahaha, dll,
dll, dll.
Yang jelas, semua peran-peran itu emang harus dikompromiin. Dan kedua
belah pihak sama-sama setuju dan mau berkompromi. Nggak boleh ada yang diem-diem
kesel jadi pemimpin. Diem-diem nggak suka diatur-atur. Tapi dipendem aja dengan
alasan 'sabar'. Menurut gue itu bukan sabar sih, tapi bom waktu. Ketika
waktunya habis, sabar itulah yang akhirnya habis dan meledak. Tapi lain halnya
kalo lo 'belum' terbiasa, lalu membiasakan diri. Namanya adaptasi. Menyesuaikan
peran. Dan itu emang perlu latihan kok. Aktor-aktor ngelakuin itu kan, untuk
bisa menyatu dengan peran yang mereka jalani dalam setiap filmnya.
Kenapa akhirnya kita gagal dalam sebuah hubungan? Ketika
kadar kompromi kita udah ngelewatin titik kritis. Suhunya (baca: tingkat
kesabaran) udah overly high, dan tekanan udah nggak mampu dilakuin lagi. And
that's when you called 'you've pushed yourself too hard that you can't do it
anymore'. Dan boommm, kita meledak deh. Akhirnya kita nyerah. Sama kayak aktor
juga. Mau se-berusaha kerasnya apapun dia mendalami sebuah peran, kalo emang
kayaknya nggak cocok, akan kerasa pasti... "hengggg, I can't do
this".
Maka itu, punya pasangan yang compatible emang perlu. Ada
yang udah by nature, kita ketemu pasangan yang langsung klik dan udah tau
perannya masing-masing dengan smooth. Ada yang dengan si dia, kita mampu untuk
jadi compatible dan nggak overlap satu sama lain walaupun sebenernya kita beda.
Either way, ujung-ujungnya by the grace of God sih ya yang bisa mempertemukan
kita sama orang yang kayak gitu. Hahahaha. Dan ketika kita masih belum nemuin orang yang 'ituuuhhh', kita akan terus berganti peran tiap ganti pasangan.
Panjang abis udah kayak nulis skripsi. Duh jadi kangen peran
mahasiswi. Hahah. Dah ah.
Salam sayang,
Rims.









