Setuju Untuk Tidak Setuju
Beberapa hari-bahkan minggu- belakangan ini,
pembicaraan-pembicaraan di sekeliling saya lagi dipenuhi sama pembahasan dan
diskusi mengenai: kesetaraan, gender, prinsip, pernikahan, hingga hidup. Iyah,
sungguh sangat mengherankan, bisa se-berfaedah itu topiknya, hahaha. Yang bikin otak jadi'penuh' sendiri,
haha. Kira-kira (sebagian) isinya gini nih:
"Kenapa sih, perempuan kan koar-koar tentang
emansipasi, tapi kalau di busway/kereta, maunya diproritasin untuk duduk? Ini
terlepas dari lansia atau ibu hamil ya, perempuan biasa aja gitu."
"Kenapa perempuan tuh selalu dianggap/menganggap
dirinya lemah, padahal jelas-jelas perempuan justru punya endurance yang lebih
daripada laki-laki. Makanya, perempuan sanggup menstruasi, hamil sembilan
bulan, melahirkan, sampe menyusui."
"Indonesia masih butuh feminis, tapi feminis yang ngerti permasalahan, dan kebutuhan perempuan yang sebenernya, di ranah bawah, di daerah, orang-orang yang masih kurang pendidikan dan masih terbelakang. Nggak cuma koar-koar pake permasalahan orang kota doang."
"Kenapa cewek kalo manja, kesannya tuh nyusahin cowok
banget. Padahal kalo cowok yang manja, cewek biasa aja, malah seneng."
"Apa sih bedanya manja sama nggak mandiri?"
"Menurut lo bener nggak, kalau gimanapun juga, cowok
emang kodratnya sebagai pemimpin. Apalagi dalam rumah tangga?"
"Di Indonesia tuh, penghasilan suami ya untuk suami
sama istri. Kalo penghasilan istri, buat dirinya sendiri. Tapi gue sama istri
gue nggak apa-apa sih, kayak gitu."
"Itu menjunjung tinggi kesetaraan, atau sebenernya si
cowok nggak mau/nggak mampu aja punya tanggung jawab yang lebih? Jadinya
berlindung di balik 'kesetaraan'."
"Kalo cowoknya punya penghasilan yang lebih rendah dari
si ceweknya, apa cowok masih tetep harus menafkahi si cewek?"
"Tapi ketika menikah kan, cowok mengambil alih seluruh
tanggung jawab atas si cewek, yang tadinya jadi tanggung jawab orangtua si
cewek. Termasuk soal menafkahi, lahir batin."
"Waktu gue mau nikah, calon suami gue minta gue untuk
belajar, seenggaknya baca-baca soal hadist tentang pernikahan, termasuk juga
soal tanggung jawab dan kewajiban istri-suami."
"Gue tetep butuh nahkoda buat kapal gue nanti sih. Gue jadi co-nahkodanya."
"Kalo udah nikah, prinsip tentang finansial itu penting banget. Nggak bisa boong, kita nggak bisa hidup cuma pake cinta."
"Menurut lo, nikah tuh butuh nggak sih?"
"Gue sih butuh nikah, biar kalo nanti udah tua, ada
yang ngurusin."
"Kenapa sih pernikahan harus dicatet-catet sama
pemerintah?"
"Menurut gue nikah dicatet-catet tuh nggak perlu, kalo
sama-sama cinta dan udah berkomitmen berdua, yaudah jalanin aja!"
"Pencatatan pernikahan itu kayak semacam 'security'
gitu nggak sih?"
"Prinsip gue sebagai laki-laki sih, selama gue bisa,
gue akan lakuin buat perempuan gue."
"Di atas prinsip tuh masih ada yang lebih tinggi lagi
ya, yaitu kepercayaan, iman."
"Yang lebih penting tuh kesetaraan untuk mendapatkan
hak nggak sih, ketimbang menyetarakan kewajiban?"
"Gue bukan feminis, gue lebih suka nyebut diri gue
humanis."
"Menurut gue, di atas kesetaraan, ada yang lebih
penting, yaitu keadilan. Setara nggak sama dengan adil, dan adil belum tentu
setara."
"Gimana caranya menafsirkan keadilan yang bener-bener
adil?"
Daaaaan..... kalau dilanjutin, akan jadi sangat panjang
serta bikin makin pusing, hahahaha. Tapi seru banget ngedengerin
pendapat-pendapat yang beda-beda itu. Trus, saya akhirnya cuma bisa
menyimpulkan, kalau dari semua-mua yang udah diperdebatkan itu, hasilnya
adalah: nggak ada kesimpulannya. :)
Iya, menurut saya, nggak ada yang benar dan yang salah. Cara
berpikir dan memandang kehidupan masing-masing orang tuh bukan ilmu pasti yang
bisa dikroscek bener atau nggak jawabannya, nggak kayak fisika atau kalkulus lanjut
(DUH!). Menarik banget dengerin cerita adik saya tentang materi kuliahnya yang
membahas gender, lalu sekelas saling melempar pendapat pro dan kontra atas
sebuah situasi, yang lalu berakhir juga tanpa kesimpulan yang mutlak. Bikin
saya makin pengen belajar banyak tentang sosiologi.
Terlepas dari itu, yang saya juga sadari adalah pada
akhirnya, isi otak dan hati manusia emang beda-beda kok. Pun dengan perihal
keyakinan, kepercayaan, serta prinsip yang dipegang. And in the end, it's okay
to be different. It's okay, to agree to disagree.
Selama masing-masing nggak saling merugikan, dan meyakiti
satu sama lain. Selama masing-masing nggak saling mengganggu, dan memaksakan
kehendak satu sama lain. Selama masing-masing nggak memaksakan kesetaraan dalam
sebuah pendapat. Saya kira, semua kembali kepada hak masing-masing manusia
untuk berpendapat berkeyakinan, bahkan beragama, serta kewajibannya untuk mempertanggung jawabkan pilihannya tersebut. Lakum diinukum wa liya diin. (QS: 109; 6)
Dan kita, hanya perlu mencari serta menemukan orang yang
memiliki keyakinan, kepercayaan, prinsip, serta visi dan misi yang sama dengan
kita, dalam menjalani hidup. Atau, yang dengan bersama dia, kita bisa mencapai
satu titik temu bernama kompromi dan komitmen, untuk tetap bisa menyelaraskan buah pikiran
dan hati masing-masingnya. Itu semua hanya bisa terjadi, kalau saling terbuka dan mau membicarakannya.
Bukannya itu juga salah satu konsep dari berpasangan, ya nggak sih? Untuk bisa saling mengenal satu sama lain. Untuk bisa bersatu, bukan harus menyatu. Untuk bisa menggerakan sebuah gerobak dengan dua roda yang -nggak perlu berdempetan- tapi tetap bergerak ke arah yang sama.
Tapi kalau nggak bisa, ya nggak perlu dipaksakan. Mungkin, bukan
dia orangnya. :)
0 comments